Efisiensi dan Ketahanan Energi Dorong Perusahaan Melirik PLTS Hybrid



KONTAN.CO.ID - Jakarta, Agustus 2026 Kebutuhan energi bagi dunia usaha kini tidak lagi sebatas memperoleh pasokan listrik dengan biaya yang efisien. Stabilitas pasokan dan kemampuan menjaga operasional ketika terjadi gangguan listrik juga menjadi pertimbangan dalam menentukan strategi energi perusahaan.

Kebutuhan tersebut mendorong berkembangnya sistem energi hybrid yang memungkinkan perusahaan mengombinasikan beberapa sumber energi sesuai kebutuhan operasional. Dalam penerapannya, sistem ini dapat mengintegrasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), jaringan listrik PLN, serta Battery Energy Storage System (BESS).

Energi yang dihasilkan panel surya dapat langsung digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik perusahaan. Ketika produksi energi melebihi kebutuhan pada saat tertentu, energi tersebut dapat disimpan dalam baterai dan digunakan kembali ketika dibutuhkan. BESS juga dapat berfungsi sebagai sumber daya cadangan ketika pasokan listrik utama mengalami gangguan.


Pengembangan PLTS yang terintegrasi dengan BESS juga mulai menjadi bagian dari pengembangan sistem energi nasional. Sejumlah proyek PLTS yang dikembangkan PLN, misalnya, telah mencakup integrasi dengan BESS sebagai teknologi penyimpanan energi.

Kontan - Pressrelease Online.
© Foto oleh Jarwinn
“Kalau sebelumnya solar panel lebih banyak dilihat dari sisi penghematan, sekarang kebutuhan perusahaan mulai berkembang. Mereka juga mempertimbangkan bagaimana sistem energi dapat membantu menjaga operasional ketika pasokan listrik utama terganggu,” ujar Wijaya Rusli, perwakilan Jarwinn Solar Panel

Dalam penerapannya, sistem hybrid ini juga dapat dirancang sebagai alternatif pengganti genset maupun digunakan secara paralel dengan genset, tergantung pada kebutuhan dan karakteristik operasional perusahaan. Jarwinn menyediakan sistem dengan kapasitas mulai dari 5.000 watt hingga 500.000 watt dan kelipatannya, sehingga dapat disesuaikan untuk berbagai skala kebutuhan, mulai dari fasilitas komersial hingga operasional industri. Dengan dukungan BESS, energi dapat disimpan dan digunakan kembali ketika dibutuhkan, termasuk sebagai sumber daya cadangan saat pasokan listrik utama terganggu. Bagi perusahaan, sistem hybrid memberikan fleksibilitas dalam mengelola sumber energi. Pada saat produksi energi surya mencukupi, kebutuhan listrik dapat dipenuhi dari PLTS. Energi yang tersimpan dalam baterai dapat digunakan ketika dibutuhkan, sementara jaringan PLN tetap menjadi bagian dari sistem untuk menjaga ketersediaan daya.

Menurut Wijaya, kebutuhan setiap perusahaan berbeda sehingga kapasitas PLTS maupun baterai tidak dapat ditentukan dengan pendekatan yang sama.

“Yang perlu dilihat adalah pola konsumsi listrik, kebutuhan beban, kapasitas yang diperlukan, hingga seberapa kritis operasional perusahaan ketika terjadi pemadaman. Dari situ baru dapat dirancang kombinasi PLTS, PLN, dan baterai yang paling sesuai,” kata Wijaya.

Berapa Potensi Penghematan dari PLTS Hybrid?

Selain meningkatkan fleksibilitas pengelolaan energi, keputusan menggunakan PLTS hybrid juga dapat dilihat sebagai investasi jangka panjang.

Kontan - Pressrelease Online.
© Foto oleh Jarwinn
Sebagai ilustrasi, penggunaan PLTS Hybrid berkapasitas 500 kWp yang dikombinasikan dengan BESS 500 kWh membutuhkan investasi sekitar Rp4,5 miliar hingga Rp5 miliar. Dengan konfigurasi dan pola konsumsi energi tertentu, sistem tersebut berpotensi menghasilkan penghematan biaya listrik sekitar Rp75 juta hingga Rp90 juta per bulan atau sekitar Rp900 juta hingga Rp1,08 miliar per tahun.

Dengan asumsi tersebut, periode pengembalian investasi dapat berada di kisaran lima tahun. Setelah periode pengembalian investasi tercapai, manfaat ekonomi dari pengurangan biaya energi dapat terus dirasakan selama sistem masih beroperasi secara optimal.

Namun, angka tersebut merupakan ilustrasi dan bukan besaran penghematan yang berlaku untuk setiap perusahaan. Hasil aktual akan bergantung pada profil konsumsi listrik, tarif dan pola penggunaan energi, kapasitas sistem, kondisi lokasi, serta konfigurasi PLTS dan BESS yang digunakan.

Karena itu, menurut Jarwinn, analisis kebutuhan energi menjadi tahap penting sebelum perusahaan menentukan investasi. Tujuannya bukan memasang kapasitas PLTS atau baterai sebesar mungkin, tetapi menemukan konfigurasi yang sesuai dengan kebutuhan operasional sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang optimal.

Pendekatan tersebut membuat sistem hybrid relevan untuk berbagai jenis usaha, mulai dari manufaktur, pergudangan dan pusat distribusi hingga fasilitas komersial dan perkantoran yang membutuhkan pasokan listrik secara konsisten.

Jarwinn Panel Surya telah beroperasi sejak 2017 dengan menyediakan solusi energi surya untuk berbagai kebutuhan. Perusahaan ini mengembangkan sistem PLTS On-Grid, Off-Grid, dan Hybrid yang dapat disesuaikan dengan karakteristik kebutuhan energi penggunanya.

“Pada akhirnya, keputusan investasi energi harus masuk akal secara operasional maupun bisnis. PLTS dan baterai bukan hanya soal menggunakan energi yang lebih bersih, tetapi bagaimana perusahaan dapat mengelola energi secara lebih efisien dan memiliki sistem yang lebih siap menghadapi gangguan,” ujar Wijaya.

Ke depan, kebutuhan perusahaan terhadap energi tidak hanya akan ditentukan oleh harga listrik. Efisiensi, stabilitas pasokan, serta kemampuan menjaga keberlangsungan operasional akan semakin menjadi bagian dari pertimbangan investasi energi perusahaan.  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News