Efisiensi menjadi penopang ITMG



JAKARTA. Industri batubara mendapat banyak tantangan. Harga batubara yang masih rendah serta adanya rencana batubara diganti dengan bahan lain untuk mengurangi polusi membuat prospek emiten batubara kian suram. apalagi, baru-baru ini pemerintah Beijing, China memutuskan melarang batubara sebagai bahan bakar pembangkit listrik mulai 2020.

Berbagai sentimen negatif ini tentu akan berpengaruh pada PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG). Yasmin Soulisa, Analis BNI Securities mengatakan, pelarangan ekspor batubara di China tentu akan berpengaruh pada ITMG. Pasalnya, 28% produksi batubara ITMG dikirim ke China, 16% ke Jepang, dan 11% untuk dalam negeri.

Yasmin berharap, kebijakan pemerintah Beijing tidak diikuti daerah lain di China. Sebelumnya, pemerintah China juga menetapkan pajak impor batubara 3%. "Penetapan pajak impor dari China sudah menjadi sentimen negatif bagi ITMG," ujar Yasmin.


Pajak ini bisa membuat permintaan batubara dari negeri China turun, yang akhirnya bisa mempengaruhi harga batubara global. Terlebih, harga batubara sedang dalam tren melemah. Karena itu, emiten batubara lebih fokus efisiensi. Yasmin melihat, ITMG merupakan emiten yang berhasil dalam efisiensi sehingga bisa mencetak margin tertinggi dibanding emiten lainnya.

Stefanus Darmagiri, Analis Danareksa Sekuritas dalam riset 11 Juli 2014 mengatakan, efisiensi biaya ITMG meliputi banyak hal. Pertama, mengurangi rasio pengupasan menjadi 9,6 kali tahun ini, dari 11,5 kali tahun lalu dan 12,2 kali di 2012. Kedua, ITMG sepenuhnya mengimplementasikan In-Pit Crushing Conveyor (IPCC) untuk efisiensi operasional pada daerah tambang Indominco. Ketiga, ITMG meningkatkan proporsi pasokan untuk pembangkit listrik menjadi 90% tahun ini, dari 88% di 2013. Sehingga menurunkan konsumsi solar.

Terakhir, ITMG mengurangi ketergantungan pada kontraktor pihak ketiga dengan membentuk anak usaha bidang kontraktor penambangan. Stefanus berharap, efisiensi ini bisa mengurangi biaya tunai 6,6% menjadi US$ 57 per ton dari US$ 61 per ton secara year-on-year (yoy).

Lydia J Toisuta, Analis JP Morgan dalam riset 1 Juli 2014 bilang, ITMG selama ini selalu memproduksi batubara dengan kalori tinggi. Dia menilai, dengan berusaha memproduksi batubara dengan kalori yang tinggi harga ITMG masih lebih tinggi, meski tetap membatasi produksi.

Tahun ini, ITMG hanya akan memproduksi batubara 30 juta ton atau naik tipis dari sebelumnya 29 juta ton untuk efisiensi biaya. Menurut Stefanus, ITMG memproduksi batubara dengan kalori tertinggi jika dibanding rekanan. Karena itu, tahun lalu harga rata-rata batubara ITMG bisa menyentuh US$ 75 per ton, dibanding rekanan US$ 54 per ton-US$ 68 per ton.

Namun, Stefanus memperhitungkan, cadangan tambang batubara ITMG 310 juta ton hanya cukup untuk produksi 11 tahun ke depan. Yasmin berharap, pemerintah akan terus mendukung industri batubara dalam negeri dengan membentuk PLTU sendiri yang menggunakan bahan bakar batubara.

Pasalnya, barang substitusi batubara sudah semakin banyak diproduksi sehingga bisa menekan permintaan. Yasmin memperkirakan, harga batubara hingga akhir tahun ini akan di US$ 70 per ton.

Lydia memprediksikan, harga batubara akan di US$ 77 per ton-US$ 81 per ton selama tahun 2014-2015. Ia memperkirakan, pendapatan ITMG tahun ini akan mencapai US$ 2,02 miliar atau turun 7,4% dari tahun lalu US$ 2,18 miliar. Sedangkan laba bersih bisa US$ 213 juta atau turun 1,8% dari sebesar US$ 217 juta.

Stefanus memprediksikan, pendapatan ITMG tahun ini US$ 2,06 miliar dengan laba bersih US$ 236 juta. Sementara Yasmin memprediksikan, pendapatan ITMG tahun ini mencapai US$ 2,19 miliar dengan laba bersih US$ 240 juta.Lydia merekomendasikan, neutral di Rp 27.300.

Stefanus merekomendasikan, hold di Rp 27.800. Sedangkan Yasmin merekomendasikan, buy di Rp 30.850 per saham. Selasa (12/8) harga saham ITMG tak bergerak dari level Rp 27.400 per saham.     

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Avanty Nurdiana