Efisiensi Perbankan Makin Kencang, Digitalisasi Jadi Kunci Tekan Biaya



KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Industri perbankan langsung tancap gas mengencangkan efisiensi di awal 2026. Strateginya jelas yaitu mendorong digitalisasi untuk memangkas biaya operasional sekaligus menjaga kinerja tetap tumbuh.

Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan, biaya overhead perbankan per Januari 2026 turun ke level 3,44%, dari 3,75% pada Desember 2025.

Penurunan paling signifikan terjadi di kelompok bank pelat merah (Himbara) yang susut 53 basis poin (bps) menjadi 3,67%, disusul Bank Pembangunan Daerah (BPD) yang turun 47 bps ke 3,37%.


Bank swasta juga mencatat penurunan tipis 5 bps ke 3,19%, sementara Kantor Cabang Bank Asing (KCBA) justru mengalami kenaikan 11 bps menjadi 1,86%.

Baca Juga: OJK Jatuhkan Sanksi ke Bank Neo Commerce, Izin Mitra Pemasaran Efek Dicabut

Tren efisiensi ini tak lepas dari percepatan adopsi layanan digital yang semakin masif. Bank berlomba mengalihkan transaksi nasabah ke kanal digital yang lebih murah, sehingga biaya per transaksi bisa ditekan.

PT Bank CIMB Niaga Tbk menjadi salah satu contoh bank yang agresif dalam strategi ini.

Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan menyebut efisiensi operasional tetap terjaga, tercermin dari rasio biaya terhadap pendapatan (cost to income ratio/CIR) yang berada di kisaran 46%.

“Saat ini kami termasuk bank yang efisien dengan CIR sekitar 46%,” ujarnya.

Fokus utama CIMB Niaga saat ini adalah memperkuat infrastruktur digital, mulai dari jaringan data hingga keamanan siber. Langkah ini sekaligus menggeser alokasi biaya operasional dari layanan konvensional ke pengembangan teknologi.

Baca Juga: Biaya Overhead Bank di Awal Tahun Menurun karena Dorongan Digitalisasi

Dampaknya mulai terlihat. Seiring meningkatnya transaksi digital, kebutuhan infrastruktur fisik seperti mesin tarik tunai terus berkurang. Hingga Desember 2025, jumlah ATM CIMB Niaga tercatat 2.786 unit, turun dari 3.256 unit pada tahun sebelumnya.

Langkah serupa juga ditempuh PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Bank swasta terbesar ini mampu menjaga efisiensi dengan mengandalkan transaksi non-tunai dan penguatan layanan digital.

Sepanjang 2025, biaya operasional BCA hanya tumbuh 1,5% secara tahunan, dengan CIR tetap rendah di level 30,7%, bahkan lebih efisien dibandingkan periode sebelum pandemi.

Ke depan, BCA memastikan tren efisiensi ini akan terus berlanjut. Upayanya difokuskan pada penguatan ekosistem finansial serta modernisasi infrastruktur teknologi informasi guna meningkatkan kualitas layanan.

Baca Juga: Saham Big Banks Kembali Ditutup Melemah Lagi Hari Ini (26/3/2026)

Dengan arah strategi yang semakin seragam, digitalisasi dan efisiensi, perbankan kini tidak hanya menekan biaya, tetapi juga membangun fondasi pertumbuhan jangka panjang yang lebih berkelanjutan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News