Ekonom Bank Mandiri: 2026 Jadi Skenario Ekonomi Paling Rumit Sepanjang Sejarah



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kondisi ekonomi global dan domestik saat ini berada dalam fase yang penuh ketidakpastian. Situasi tersebut membuat internal Bank Mandiri Group menghadapi tantangan besar dalam menyusun proyeksi bisnis ke depan.

Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, ketidakpastian ekonomi sebenarnya sudah berlangsung sejak tahun lalu. Namun, kondisi pada 2026 dinilai jauh lebih kompleks karena banyaknya faktor yang saling mempengaruhi, mulai dari perlambatan ekonomi global, ancaman stagflasi, hingga ketegangan geopolitik.

“Sejak tahun yang lalu situasi ekonomi global dan domestik sangat-sangat tidak menentu. Bahkan kalau kita membuat skenario saat ini di interna Bank Mandiri Group, kita merasakan bahwa skenario yang kita lakukan adalah the most complicated scenario yang pernah kita buat,” ujar Asmo dalam acara Mandiri Macro & Market Brief 2Q26 Indonesia Economic Outlook, Senin (11/5/2026).


Baca Juga: Sempat Opname Tiga Hari, Jemaah Haji Berusia 103 Tahun Mardijiyono Siap ke Makkah

Ia menjelaskan, ancaman stagflasi masih menjadi perhatian utama. Di satu sisi pertumbuhan ekonomi melambat, tetapi di sisi lain tekanan inflasi belum juga mereda.

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kenaikan tarif perdagangan Amerika Serikat pada era pemerintahan Donald Trump serta konflik geopolitik yang terus berlangsung.

Menurut Asmo, situasi global juga membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan Amerika Serikat atau The Fed pada 2026 semakin kecil. Hal itu menjadi risiko yang perlu diantisipasi pelaku pasar dan sektor keuangan.

Dari sisi domestik, Andry menyoroti adanya tantangan di Indonesia berupa fenomena decoupling atau ketimpangan yang terjadi di berbagai lini. Ketimpangan tersebut terlihat antar segmen masyarakat, antar sektor ekonomi, hingga antar wilayah.

"Tantangan bagi pemerintah tentu saja adalah three types of decoupling by segmen (tiga ketimpangan), antara middle lower to middle upper (kelas menengah bawah dan menengah kelas), terus juga sectors (industri), dan yang terakhir decoupling dari sisi regions (ketimpangan wilayah/daerah)," ujar Asmo.

Selain itu, memanasnya kondisi geopolitik, terutama gangguan di Selat Hormuz, turut memicu kenaikan harga minyak dunia. Sebagai negara net importer minyak, Indonesia dinilai akan menghadapi tekanan yang lebih besar akibat lonjakan harga energi tersebut.

Baca Juga: Mandiri Spending Index Mei 2026 Melandai, Masyarakat Mulai Rem Belanja Pasca Lebaran

Asmo juga menyinggung tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh kisaran Rp 17.300 hingga Rp 17.400 per dolar Amerika Serikat. Menurutnya, pergerakan rupiah masih sangat dipengaruhi sentimen global.

Di sektor perbankan terutama di internal Bank Mandiri, Asmo menilai segmen korporasi masih cukup tangguh di tengah ketidakpastian ekonomi. Namun, tantangan mulai terlihat pada kualitas aset di segmen menengah ke bawah yang dinilai lebih rentan terhadap tekanan ekonomi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News