Ekonom BCA Proyeksikan Defisit Transaksi Berjalan Lebih Tinggi di Kuartal I 2024



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memproyeksikan defisit transaksi berjalan berpotensi lebih tinggi pada kuartal I-2024. Salah satunya disebabkan aktivitas impor yang lebih tinggi.

Pada tahun 2023, defisit transaksi berjalan tercatat sebesar US$ 1,6 miliar atau 0,1% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Kepala Ekonom BCA, David Sumual mengatakan, belanja pemerintah dinilai lebih tinggi tahun ini dan berdampak pada tingginya impor. “(Proyeksi defisit transaksi berjalan) masih tipis mungkin sekitar minus 0,1% sampai 0,2% dari PDB di kuartal I 2024,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Senin (24/3).


David menyoroti, meski neraca perdagangan mengalami surplus dalam 46 bulan berturut-turut, namun nilainya semakin kecil. Di mana, pada Februari 2024 tercatat sebesar US$ 0,87 miliar, menurun dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar US$ 2,02 miliar.

Baca Juga: Neraca Dagang Masih Bisa Surplus

Dia menilai, pada bulan Februari 2024 kegiatan impor tampak tinggi karena memasuki momentum ramadan. Sementara itu, harga komoditas pada Maret 2024 ini dinilai sedikit lebih baik. Untuk itu, dia memproyeksikan surplus neraca perdagangan dapat naik.

“Surplusnya mungkin bisa di atas US$ 1 billion (miliar) di Maret nanti, kalau total di akhir tahun mungkin masih sekitar US$ 30 billion perkiraan,” kata David.

Di sisi transaksi modal dan finansial, David menuturkan, investasi di paruh pertama (first half) tahun 2024 dinilai tidak terlalu bagus. Biasanya, kata dia, kegiatan investasi akan membaik memasuki paruh kedua.

Baca Juga: Neraca Transaksi Berjalan Diproyeksi Menurun pada Kuartal I-2024, Ini Pemicunya

Dia menyebutkan, untuk investasi portofolio arus masuk bersih (net inflow) cenderung tinggi di pasar modal. Di portofolio saham (equity) tercatat sebesar Rp 28,2 triliun sepanjang tahun berjalan (year to date/Ytd). Sementara, untuk obligasi tercatat arus keluar bersih (net outflow) sebesar Rp 22,3 triliun Ytd.

David menambahkan, proyeksi untuk obligasi cenderung menunggu kebijakan The Fed untuk menurunkan suku bunga sehingga aliran dana ke instrumen obligasi bisa lebih kuat.

Baca Juga: BI Ramal Neraca Pembayaran RI Akan Surplus pada Tahun Ini

“Jadi walaupun bonds kepemilikan asing outflow, tapi nggak outflow keluar tapi beralih ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebagian,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Noverius Laoli