Ekonom BCA Proyeksikan Inflasi Tahunan Akselerasi ke 3,81% per Januari 2026



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Inflasi pada Januari 2026 diperkirakan mengalami akselerasi secara tahunan, terutama dipengaruhi oleh efek pembanding yang rendah akibat diskon tarif listrik pada tahun sebelumnya. Meski demikian, tekanan harga secara bulanan dinilai masih relatif terkendali.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memproyeksikan, inflasi Januari 2026 berada di kisaran 3,81% secara tahunan (year on year/yoy) dan 0,10% secara bulanan (month to month/mtm). Sementara itu, inflasi inti diperkirakan mencapai 2,45% yoy dan 0,37% mtm.

“Inflasi Januari cenderung akselerasi secara tahunan karena efek low base dari diskon tarif listrik tahun lalu,” ujar David kepada Kontan, Minggu (1/2/2026).


Baca Juga: Ekonom Proyeksi IHK Januari 2026 Deflasi 0,11%, Namun Inflasi Tahunan Capai 3,59%

David menjelaskan, pada Januari 2025 pemerintah memberikan diskon tarif listrik yang cukup luas hingga pelanggan berdaya 2.200 VA. Adapun pada Januari 2026, diskon listrik masih ada namun cakupannya jauh lebih terbatas, hanya untuk pelanggan 450 VA. Kondisi ini membuat inflasi tahunan terlihat lebih tinggi meski tekanan permintaan tidak melonjak signifikan.

Di sisi lain, David menilai sebagian besar harga bahan pokok justru mengalami penurunan pada awal tahun. Penurunan harga terutama terjadi pada kelompok bawang-bawangan dan cabai, seiring membaiknya pasokan.

“Secara umum, harga bahan pangan utama relatif turun, sehingga menahan tekanan inflasi dari sisi pangan,” jelasnya.

Namun demikian, inflasi inti masih menunjukkan akselerasi. Menurut David, hal ini terutama didorong oleh kenaikan harga emas yang terus berlanjut, seiring meningkatnya permintaan terhadap aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global.

Untuk periode selanjutnya, David memperkirakan inflasi pada kuartal I-2026 secara keseluruhan akan bergerak sedikit lebih akseleratif. Tekanan tersebut berasal dari faktor musiman, termasuk perayaan Tahun Baru Imlek, bulan Ramadan, hingga Idul fitri.

“Secara kuartalan, inflasi kuartal I cenderung naik bertahap karena faktor musiman hari raya. Namun, sejauh ini tekanannya masih terukur,” pungkas David.

Selanjutnya: Nomura Menurunkan Peringkat Saham Indonesia Menjadi Netral

Menarik Dibaca: Layar Huawei MatePad 11.5: Fitur Tersembunyi Ini Bikin Kagum

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News