KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai, perlambatan pertumbuhan penyerapan tenaga kerja dari realisasi investasi pada 2025 disebabkan oleh komposisi sektor dan fase proyek, tak semata hanya karena meningkatnya biaya investasi. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melaporkan penyerapan tenaga kerja dari realisasi investasi sepanjang 2025 mencapai 2,71 juta orang, tumbuh 10,4% secara tahunan. Meski mencatatkan peningkatan, laju pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan capaian 2024 yang tumbuh hingga 34,7% secara year on year yang menyerap tenaga kerja 2,46 juta orang. Perlambatan penyerapan tenaga kerja pada 2025 ini mengindikasikan adanya penurunan dari sisi kualitas investasi.
Baca Juga: CEO Danantara Rosan Masih Kaji Opsi Pembentukan BUMN Baru di Sektor Tekstil Menurut Josua, struktur investasi pada 2025 banyak ditopang oleh sektor-sektor yang cenderung padat modal, seperti industri logam dasar dan pertambangan. “Sektor-sektor ini mencatat nilai investasi yang besar, tetapi tambahan tenaga kerja per rupiah investasinya relatif lebih rendah dibanding sektor padat karya,” ujar Josua kepada Kontan, Sabtu (17/1/2026). Ia menambahkan, dalam agenda hilirisasi mineral, pemerintah juga menekankan pentingnya penggunaan teknologi yang terus diperbarui. Konsekuensinya, belanja proyek lebih banyak dialokasikan untuk mesin dan peralatan dibandingkan perekrutan tenaga kerja dalam jumlah besar. Selain faktor sektor, Josua menjelaskan bahwa fase proyek turut memengaruhi penyerapan tenaga kerja. Ketika proyek-proyek besar beralih dari tahap konstruksi ke tahap operasi, kebutuhan tenaga kerja umumnya menurun setelah melewati puncak pembangunan. “Biaya investasi yang meningkat memang bisa mendorong perusahaan lebih hemat tenaga kerja, tetapi faktor penentu utamanya tetap campuran sektor dan karakter proyek yang masuk pada tahun tersebut,” jelasnya. Menatap 2026, Josua menilai peluang investasi masih terbuka lebar meski tantangannya juga signifikan. Dari sisi penanaman modal dalam negeri (PMDN), arah kebijakan dinilai cukup kuat seiring pertumbuhan PMDN 2025 yang mencapai 26,6%. Baca Juga:
Pesawat ATR 42-500 Rute Yogyakarta-Makassar Hilang Kontak Pemerintah juga menyebut dorongan PMDN akan berlanjut, seiring mulai aktifnya Danantara berinvestasi sejak Oktober 2025 dan rencana memperbesar investasi pada 2026 di berbagai sektor, seperti kesehatan, hilirisasi, dan industri kimia. Danantara juga diharapkan berkolaborasi dengan investor asing untuk meningkatkan kepercayaan. Dari sisi agenda proyek, sektor perumahan dan kawasan industri dipandang berpotensi meningkat signifikan pada 2026. Sementara itu, target realisasi investasi 2026 yang beredar di publik berada di kisaran Rp 2.100 triliun, menandakan adanya target akselerasi dari pemerintah. Namun, Josua mengingatkan tantangan utama tetap berada pada kepastian dan kecepatan eksekusi. Pemerintah sendiri menegaskan bahwa investor paling tidak menyukai ketidakpastian. Selain tantangan domestik, tekanan global juga masih membayangi arus investasi, mulai dari ketegangan dagang, tingginya biaya pinjaman, hingga ketidakpastian geopolitik. Untuk memperkuat penanaman modal asing (PMA), Josua menilai kolaborasi antara Danantara dan BKPM perlu dirancang secara rapi. Danantara diharapkan berperan sebagai mitra strategis dan pendalaman kelayakan proyek, sementara BKPM tetap memimpin perizinan dan kepastian regulasi. “Dengan begitu, investor merasa memiliki mitra kuat sekaligus kepastian proses,” pungkasnya.
Baca Juga: Menteri Keuangan Datangi Danantara, Cek Langsung Keluhan Coretax Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News