Ekonom Bersilang Pendapat soal Kebijakan The Fed Paruh Kedua 2026



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON – Prospek kebijakan moneter Amerika Serikat pada paruh kedua 2026 semakin sulit diprediksi.

Di tengah ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga minyak, dan kondisi ekonomi yang masih menunjukkan ketahanan, para ekonom justru terbelah dalam memproyeksikan langkah berikutnya dari bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed).

Sebagian kalangan menilai pelemahan daya beli konsumen akan memaksa The Fed memangkas suku bunga untuk menopang pertumbuhan ekonomi.


Namun, kelompok lain memperkirakan inflasi yang kembali menguat serta pasar tenaga kerja yang membaik justru akan mendorong bank sentral menaikkan suku bunga demi mencegah ekonomi mengalami overheating seperti yang terjadi pada masa pandemi Covid-19.

Perbedaan pandangan tersebut mencerminkan tingginya ketidakpastian yang menyelimuti perekonomian Amerika Serikat saat ini, mulai dari dinamika geopolitik global hingga perubahan struktur ekonomi akibat pesatnya investasi di sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Baca Juga: Pasar Minyak Dunia Diproyeksi Surplus pada 2027, IEA Ungkap Penyebabnya

Sebagian Ekonom Yakin Suku Bunga Akan Turun

Kepala Ekonom Amerika Serikat di Natixis CIB Americas, Chris Hodge, termasuk pihak yang memperkirakan langkah berikutnya The Fed adalah penurunan suku bunga.

Ia memproyeksikan akan terjadi dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin dalam beberapa bulan mendatang seiring mulai melemahnya konsumsi masyarakat dan dampak penurunan upah riil setelah disesuaikan dengan inflasi.

Menurut Hodge: "Langkah berikutnya adalah penurunan suku bunga. Ekspektasi inflasi tetap terjaga, sementara pertumbuhan upah riil berada di wilayah negatif. Apakah mereka benar-benar ingin menaikkan suku bunga dalam situasi ketika inflasi lebih banyak didorong oleh faktor pasokan?"

Pandangan tersebut juga diperkuat oleh penurunan harga minyak dunia setelah tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali membuka Selat Hormuz. Harga minyak acuan global kini turun ke bawah US$80 per barel dan hanya sekitar 10% lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik memicu penutupan jalur pelayaran strategis tersebut.

Ekonom Citi bahkan memprediksi peluang kebijakan yang lebih longgar semakin besar, dengan ekspektasi penurunan suku bunga secara berturut-turut pada pertemuan The Fed bulan September, Oktober, dan Desember.

PGIM Justru Memperkirakan Tiga Kali Kenaikan Suku Bunga

Berbeda dengan pandangan tersebut, Kepala Ekonom PGIM Robert Sockin menilai ekonomi Amerika Serikat masih tumbuh terlalu kuat sehingga membutuhkan pengetatan kebijakan moneter.

Ia memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali.

Baca Juga: Trump Curi Perhatian di Pertemuan G7 dengan Ucapan `Saya Bosnya`

Sockin mengatakan: "Perekonomian terus melaju dengan pertumbuhan di atas tren, inflasi di atas target, dan kini pasar tenaga kerja kembali menghangat. Setelah awal tahun yang lambat, penciptaan lapangan kerja kini berlangsung dengan kecepatan yang lebih mendekati periode sebelum pandemi."

Banyak Faktor Membuat Prospek Ekonomi Sulit Diprediksi

Perbedaan tajam di kalangan ekonom tidak terlepas dari banyaknya faktor yang masih belum pasti.

Di antaranya adalah kebijakan tarif impor Presiden Donald Trump yang masih menghadapi tantangan hukum sekaligus terus mengalami perubahan, gejolak harga minyak yang sempat melonjak lebih dari 70% selama konflik Amerika Serikat-Iran sebelum akhirnya kembali turun drastis, hingga besarnya investasi di sektor AI yang berpotensi mengubah struktur ekonomi.

Di sisi lain, Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, juga belum menyampaikan pandangan resminya mengenai kondisi ekonomi Amerika Serikat.

Pertemuan Perdana di Bawah Ketua Baru Jadi Sorotan

Pertemuan Federal Reserve yang dipimpin Kevin Warsh untuk pertama kalinya dijadwalkan berakhir pada Rabu.

Pasar secara luas memperkirakan suku bunga akan tetap dipertahankan pada kisaran 3,50% hingga 3,75%.

Namun demikian, perhatian investor akan tertuju pada proyeksi ekonomi terbaru para pejabat The Fed serta konferensi pers perdana Warsh untuk mencari petunjuk apakah bank sentral melihat peluang memasuki era disinflasi baru atau justru meningkatnya risiko inflasi yang memerlukan biaya pinjaman lebih tinggi.

Baca Juga: Jeff Bezos: AI Akan Picu Kekurangan Tenaga Kerja, Bukan Menggantikan Manusia

Mayoritas analis memperkirakan proyeksi terbaru The Fed masih akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini sepanjang tahun, meski mulai muncul pandangan bahwa kenaikan suku bunga mungkin diperlukan. Saat ini, investor hanya memperkirakan satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun.

The Fed Dinilai Masih Akan Bersikap Wait and See

Chief Economist Jefferies, Thomas Simons, menilai besarnya ketidakpastian membuat para pembuat kebijakan kemungkinan akan berhati-hati dalam memberikan panduan mengenai arah kebijakan ke depan.

"Ada 19 pejabat pembuat kebijakan di The Fed, dan tidak berlebihan jika dikatakan bahwa mereka memiliki 19 pandangan yang berbeda mengenai keseimbangan risiko dari konflik Iran, dampaknya terhadap prospek pertumbuhan dan inflasi, serta respons kebijakan yang tepat. Di tengah tingginya ketidakpastian prospek ekonomi, fundamental pasar tenaga kerja yang masih solid dan belum menyebarnya dampak kenaikan harga energi terhadap inflasi inti memberikan ruang bagi FOMC untuk tetap mempertahankan pendekatan menunggu dan melihat perkembangan," katanya.