JAKARTA. Ekonom Kenta Institute Eric Alexander Sugandi mengatakan, Bank Indonesia (BI) berpeluang melakukan pelonggaran kebijakan moneter melalui penurunan giro wajib minimum (GWM). Penurunan GWM diperlukan untuk mendorong pertumbuhan kredit. Eric mengatakan, pertumbuhan kedit tahun ini tidak secepat yang diperkirakan lantaran permintaan masih melemah. Ia memperkirakan, pertumbuhan kredit akhir tahun ini hanya sekitar 8%-10%. Bahkan, masih ada risiko ke bawah perkiraan pertumbuhan kredit tersebut. Oleh karena itu, lanjut Eric, penurunan GWM akan memberikan tambahan likuiditas di sistem perbankan. Tak hanya itu, penurunan GWM juga dapat memfasilitasi penurunan suku bunga deposit dan kredit dari sisi suplai.
Ekonom: BI bisa longgarkan GWM hingga level 5%
JAKARTA. Ekonom Kenta Institute Eric Alexander Sugandi mengatakan, Bank Indonesia (BI) berpeluang melakukan pelonggaran kebijakan moneter melalui penurunan giro wajib minimum (GWM). Penurunan GWM diperlukan untuk mendorong pertumbuhan kredit. Eric mengatakan, pertumbuhan kedit tahun ini tidak secepat yang diperkirakan lantaran permintaan masih melemah. Ia memperkirakan, pertumbuhan kredit akhir tahun ini hanya sekitar 8%-10%. Bahkan, masih ada risiko ke bawah perkiraan pertumbuhan kredit tersebut. Oleh karena itu, lanjut Eric, penurunan GWM akan memberikan tambahan likuiditas di sistem perbankan. Tak hanya itu, penurunan GWM juga dapat memfasilitasi penurunan suku bunga deposit dan kredit dari sisi suplai.