KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Efisiensi sejumlah bank besar masih menghadapi tekanan hingga kuartal III 2026. Persaingan menghimpun dana pihak ketiga (DPK) dan penyempitan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) membuat pertumbuhan pendapatan belum sepenuhnya mampu mengimbangi kenaikan biaya operasional. Berdasarkan riset Kontan terhadap delapan bank besar, enam bank mencatatkan kenaikan
cost to income ratio (CIR) secara tahunan atau
year on year (YoY) per September 2026. Kenaikan tertinggi terjadi pada Maybank Indonesia, dengan CIR meningkat 10,92% menjadi 82,09%. CIR Bank Permata juga naik 6,84% menjadi 51,55%, disusul CIMB Niaga yang meningkat 5,19% menjadi 47,59%. Bank Danamon mencatatkan kenaikan 0,58% menjadi 53,35%, sedangkan CIR BCA naik 1,78% menjadi 29,71%.
Baca Juga: Danantara Buka Peluang Payroll Pegawai BUMN ke Bank Syariah, BSI Siap Garap Pasar Sementara itu, CIR BNI relatif stabil di level 45,8%, atau turun tipis 0,02% secara tahunan. Di tengah tekanan tersebut, Bank Mandiri dan OCBC masih mampu memperbaiki efisiensi. CIR Bank Mandiri turun 16,19% menjadi 36,08%, sedangkan OCBC turun 1,73% menjadi 46,71%. Tekanan serupa juga terlihat dari rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO). Maybank Indonesia mencatatkan BOPO tertinggi sebesar 94,93%, naik dari 90,17% pada September 2025. CIMB Niaga juga mengalami kenaikan BOPO dari 72,65% menjadi 75,47%. BOPO Bank Permata naik 1,32% menjadi 76,72%, sementara BNI meningkat 1,40% menjadi 73,26%. BCA mencatatkan kenaikan tipis 0,29% menjadi 40,97%. Sebaliknya, BOPO Bank Mandiri turun 6,60% menjadi 59,29% dan Bank Danamon turun 0,32% menjadi 78,06%. Adapun OCBC mencatatkan kenaikan tipis 0,22% menjadi 69,36%. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, tekanan efisiensi paling terlihat pada BNI dan BCA. Hal ini lantaran pertumbuhan beban operasional kedua bank tersebut lebih cepat dibandingkan pendapatannya. Pada kuartal III 2026, beban operasional BNI tumbuh 12% menjadi Rp 24,20 triliun. Pertumbuhan tersebut sedikit lebih cepat dibandingkan pendapatan, sehingga laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) hanya tumbuh 11,6% menjadi Rp 27,53 triliun. Sementara itu, beban operasional BCA meningkat 3,7%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatan operasional yang sebesar 2,9%. Berbeda dengan keduanya, Bank Mandiri berhasil menurunkan beban operasional sebesar 1,6%. Perbaikan tersebut turut mendorong penurunan CIR perseroan menjadi 36,08%. Yusuf menjelaskan, tekanan efisiensi perbankan tidak semata-mata berasal dari kenaikan biaya struktural akibat ekspansi, pengembangan layanan digital, dan investasi teknologi. Perlambatan pertumbuhan pendapatan justru menjadi faktor yang lebih dominan. Menurutnya, penurunan NIM turut memengaruhi kemampuan bank menghasilkan pendapatan. NIM industri perbankan turun dari 4,56% pada akhir 2025 menjadi 4,29% pada September 2026. Persaingan bunga kredit, terutama pada segmen korporasi, membuat imbal hasil kredit tertekan. Di sisi lain, biaya dana belum mudah turun karena persaingan penghimpunan DPK masih ketat. "Jadi, kenaikan rasio efisiensi saat ini lebih tepat dibaca sebagai tekanan margin yang kemudian memengaruhi efisiensi. Ketika pendapatan bunga melambat dan biaya operasional tetap bertambah, BOPO dan CIR secara otomatis memburuk," jelas Yusuf kepada Kontan.co.id, Selasa (3/11/2026). Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M. Rizal Taufikurahman menambahkan, kenaikan BOPO dan CIR mencerminkan pertumbuhan biaya yang melampaui pendapatan. Namun, tekanan tersebut berbeda-beda di setiap bank. Ia menjelaskan, BOPO mencakup beban bunga dan pencadangan, sedangkan CIR mengecualikan kedua komponen tersebut dari perhitungan biaya. Meski demikian, biaya dana tetap dapat menekan CIR melalui penurunan pendapatan bunga bersih. "Jika berlanjut, tekanan ini menggerus margin laba meskipun kredit dan laba nominal masih tumbuh," kata Rizal. Menurutnya, efisiensi perbankan pada akhir 2026 masih berpeluang membaik, meski ruangnya terbatas. Pelonggaran giro wajib minimum (GWM) dapat membantu likuiditas, tetapi belum tentu langsung menurunkan biaya dana. Rizal menilai, bank perlu memperkuat dana murah berbasis transaksi, mengotomasi operasional, serta memastikan belanja teknologi menghasilkan peningkatan produktivitas. Sebagai tolok ukur analitis, CIR di bawah 45% dan BOPO di bawah 75% dapat menjadi sasaran bagi bank besar, dengan tetap mempertimbangkan model bisnis masing-masing. Pengamat perbankan sekaligus
Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan juga menilai kenaikan rasio efisiensi dipengaruhi biaya dana yang masih relatif tinggi, persaingan penghimpunan DPK, serta peningkatan biaya teknologi dan operasional. Di sisi lain, pertumbuhan pendapatan yang belum sepenuhnya mengimbangi kenaikan biaya berpotensi menekan profitabilitas, terutama apabila NIM terus menyempit. Namun, Trioksa mengingatkan kenaikan CIR juga perlu dilihat dari sisi investasi digitalisasi. Sebab, manfaat efisiensi dari investasi tersebut baru dapat dirasakan dalam jangka menengah. Menjelang akhir 2026, efisiensi perbankan masih berpeluang membaik melalui optimalisasi dana murah atau
current account and savings account (CASA), peningkatan pendapatan berbasis komisi, otomatisasi proses, serta pengendalian biaya operasional tanpa mengurangi kualitas layanan.
Trioksa menyebut CIR di kisaran 35%-45% dapat menjadi acuan efisiensi yang kompetitif bagi bank besar. Sementara itu, BOPO sekitar 60%-70% dapat digunakan sebagai tolok ukur indikatif, bukan standar baku untuk seluruh bank. Menurutnya, perbaikan efisiensi pada kuartal IV 2026 tetap memungkinkan, tetapi akan bergantung pada pertumbuhan pendapatan, biaya dana, dan beban pencadangan. Karena itu, bank perlu meningkatkan produktivitas aset, memperkuat pendapatan berulang, serta memastikan investasi teknologi menghasilkan efisiensi yang terukur.
Baca Juga: Kinerja Q3 Bervariasi, Bank Digital Masuk Fase Uji Keberlanjutan Bisnis Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News