Ekonom BSI Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2026 Melambat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan kehilangan momentum pada kuartal II-2026 setelah mencatat kinerja kuat pada tiga bulan pertama tahun ini.

Chief Economist PT Bank Syariah Indonesia (BSI) Tbk Banjaran Surya Indrastomo memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 akan melambat dibandingkan tiga bulan pertama tahun ini.

Dia memperkirakan, produk domestik bruto (PDB) diproyeksikan tumbuh di kisaran 5,0%–5,2% secara tahunan dengan kecenderungan mengarah ke batas bawah proyeksi.


Baca Juga: Ini Usulan Tambahan Anggaran 30 Kementerian dan Lembaga, Purbaya: Tak Semua Disetujui

Menurut Banjaran, perlambatan tersebut terjadi setelah ekonomi mencatat pertumbuhan 5,61% YoY pada kuartal I-2026yang ditopang momentum Ramadan dan Idulfitri.

"Perlambatan terutama mencerminkan normalisasi konsumsi, mobilitas, pembayaran THR, dan stimulus Ramadan-Idulfitri yang telah terkonsentrasi pada triwulan pertama," ujar Banjaran kepada Kontan Selasa (4/8).

Ia menjelaskan, tekanan utama berasal dari melemahnya konsumsi rumah tangga dan aktivitas produksi. Selama April hingga Juni 2026, penjualan eceran mengalami koreksi, sementara Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun dari 120,9 menjadi 117,8. Adapun Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini juga melemah dari 112,2 menjadi 109,2.

Di sisi produksi, aktivitas manufaktur juga belum pulih. Rata-rata Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur pada kuartal II-2026 hanya berada di level sekitar 48,7, yang masih berada di bawah ambang ekspansi 50. "Tekanan utama berasal dari melemahnya momentum konsumsi dan produksi," kata Banjaran.

Selain faktor domestik, kontribusi sektor eksternal juga diperkirakan belum mampu menopang pertumbuhan. Hingga Mei 2026, ekspor kumulatif hanya tumbuh 3,02% YoY, sedangkan impor meningkat 15,24% YoY, sehingga ekspor neto diperkirakan menjadi penghambat pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) menjadi 5,75% mulai meningkatkan biaya pendanaan bagi dunia usaha maupun rumah tangga. Kondisi tersebut dinilai membatasi konsumsi berbasis kredit, pembiayaan modal kerja, serta investasi yang sensitif terhadap perubahan suku bunga.

"Dengan demikian, pertumbuhan kuartal II tetap berada di sekitar 5%, tetapi kehilangan sebagian momentum dibandingkan kuartal I akibat normalisasi konsumsi, kontraksi manufaktur, melemahnya net exports, dan kondisi pembiayaan yang lebih ketat," pungkasnya.

Baca Juga: Lemahnya Pengawasan Jadi Biang Kerok Keracunan MBG Berulang

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News