Ekonom: China Mungkin Tak Akan Pernah Menjadi Negara dengan Ekonomi Terbesar Dunia



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Ekonom dan pebisnis Mohamed El-Erian menilai, pernyataan yang menyatakan bahwa perekonomian China masih memiliki peluang untuk mencapai puncak mungkin harus dipertimbangkan kembali. Pernyataan tersebut dituangkan El-Erian di Financial Times.

Mengutip Business Insider, meskipun pertumbuhan pesat dalam beberapa dekade terakhir telah membantu China menjadi negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia, pendekatan Beijing terhadap kemerosotan ekonomi saat ini telah mengurangi pandangan bahwa China akan menyalip Amerika Serikat.

“Sudah waktunya bagi pasar untuk menyadari bahwa China tidak kembali ke pedoman ekonomi dan keuangan lamanya. Dan kembalinya China sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi global yang kuat tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat,” tulis El-Erian. 


“Kinerja ekonomi kemungkinan akan tetap lesu selama sisa tahun 2023 dan paruh pertama tahun 2024,” tambahnya lagi.

Setelah China mencabut pembatasan pandemi Covid-19 pada akhir tahun lalu, perekonomian mengalami pemulihan singkat pada awal tahun ini. Namun sejak saat itu, konsumsi, aktivitas industri, investasi, dan ekspor tampak mengecewakan. Sementara, angka pengangguran kaum muda mencapai rekor tertinggi dan harga-harga berada pada wilayah deflasi.

El-Erian berpendapat, meskipun para analis dan investor dengan lantang menyuarakan harapan bahwa pemerintah China akan menerapkan program stimulus skala besar untuk meningkatkan perekonomian dan mendorong belanja domestik, Beijing tidak mungkin melakukan hal tersebut dalam menghadapi masalah struktural yang lebih besar.

Baca Juga: Harga Minyak Turun Tipis Akibat Kekhawatiran Pelemahan Ekonomi China

Hal ini karena strategi stimulus sebelumnya bertanggung jawab atas tingginya tingkat utang yang kini terjadi di pemerintah daerah China dan pasar properti yang tertatih-tatih. Sebagai gantinya, pihak berwenang di negara tersebut telah menerapkan serangkaian tindakan pada tingkat yang lebih kecil.

Para pemimpin juga kemungkinan besar tidak akan melakukan stimulus tradisional, karena khawatir bahwa ketergantungan terhadap stimulus tersebut akan meningkatkan kemungkinan China jatuh ke dalam perangkap negara berpendapatan menengah dan juga mendorong korupsi.

Sebaliknya, ia memperkirakan Beijing kemungkinan akan melanjutkan langkah-langkah pada tingkat yang lebih kecil, sambil berupaya melakukan transisi menuju industri-industri baru yang sedang berkembang, seperti energi ramah lingkungan, layanan kesehatan, superkomputer, dan kecerdasan buatan.

Baca Juga: Deflasi China Mereda, Stimulus Lebih Lanjut Diperkirakan Akan Memacu Permintaan

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie