Ekonom Core: Kombinasi Mahalnya Solar dan Lemahnya Rupiah Ciptakan Efek Berlapis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pada periode 15-30 April 2026 dilaporkan bahwa harga solar industri melejit hingga menyentuh harga Rp30.550 per liter. Angka tersebut meningkat Rp2.400 dibandingkan periode sebelumnya yang hanya berada di level Rp28.150 per liternya.

Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia (CORE), Yusuf Rendy Manilet mengatakan bahwa kondisi seperti ini justru membuat biaya logistik dan produksi alami kenaikan. Khususnya bagi industri manufaktur, transportasi, dan distribusi yang sangat bergantung pada bahan bakar tersebut.

Kemudian, dia menjelaskan melejitnya harga solar ini juga berhubungan dengan kondisi pelemahan rupiah dalam negeri. Sebab, harga solar yang melejit juga didukung dampak pelemahan rupiah.


"Lonjakan harga solar nonsubsidi dan pelemahan rupiah itu bukan dua fenomena yang berdiri sendiri, melainkan saling memperkuat tekanan pada sektor riil," ujar Yusuf kepada Kontan, Kamis (16/4/2026).

Baca Juga: Harga Solar Melejit dan Rupiah Melemah, Gapensi: Kenaikan Harga Tak Bisa Dihindari

Yusuf menuturkan bahwa pelemahan rupiah membuat biaya impor bahan baku, mesin, dan energi menjadi lebih mahal, sehingga struktur biaya perusahaan tertekan dari dua sisi sekaligus.

Kondisi seperti ini, kata Yusuf, justru membuat pelaku industri merasa dilema. Sebab, mereka dilema dalam menentukan harga jual atau menyerap kenaikan biaya.

Ketika pelaku industri menaikkan harga, maka risikonya yakni terjadi penurunan daya beli dan permintaan menjadi tinggi, apalagi jika inflasi juga ikut terdorong. 

"Tapi kalau biaya diserap, margin keuntungan tergerus, yang dalam jangka panjang bisa mengganggu ekspansi, investasi, bahkan berujung pada efisiensi tenaga kerja.

Lebih jauh lagi, dampaknya tidak berhenti di tingkat perusahaan," sebutnya.

Baca Juga: Rupiah Melemah & Solar Industri Naik, Apindo: Beban Pengusaha Bertambah Rp 76,5 T

Yusuf menyebutkan, jika biaya produksi naik secara luas, efek rambatannya akan mencapai ke inflasi umum, khususnya dari sisi cost-push inflation. 

"Ini berbahaya karena berbeda dengan inflasi akibat permintaan tinggi; yang ini justru terjadi ketika daya beli masyarakat sedang tertekan. Akibatnya, konsumsi rumah tangga—yang merupakan motor utama ekonomi Indonesia—bisa melambat," ucap Yusuf.

Yusuf menekankan, jika kombinasi mahalnya solar nonsubsidi dan lemahnya rupiah menciptakan efek berlapis.

Efek yang berlapis itu berupa adanya tekanan biaya produksi, mendorong inflasi, melemahkan daya beli, dan mempersempit ruang kebijakan. 

"Dalam kondisi seperti ini, respons kebijakan harus terkoordinasi—baik dari sisi moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar, maupun fiskal dan sektoral untuk meredam dampak langsung ke industri dan masyarakat," tukas dia.

Baca Juga: Harga Solar Naik, Periklindo: Penambang Bergeser ke Truk Listrik

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: