Ekonom Core Sarankan Pemerintah Kawal Kerjasama AS dan China di Proyek Vale



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) resmi menggandeng investor baru dalam proyek smelter nikel di Blok Pomalaa Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Masuknya investor baru ini berpotensi mendatangkan nilai tambah bagi industri kendaraan litsrik dalam negeri.

Untuk diketahui, perusahaan otomotif asal Amerika Serikat (AS), Ford Motor Co, dan perusahaan nikel asal China, Zhejiang Huayou Cobalt, sepakat menandatangani perjanjian investasi (Final Investment Agreement) dengan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) untuk pembangunan proyek smelter nikel senilai US$ 4,5 miliar atau sekitar Rp 67,5 triliun.

Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menyampaikan, investasi dari kedua perusahaan ini selaras dengan upaya pemerintah untuk mendorong iridisasi dari komoditas nikel.


Baca Juga: BKPM: Kerjasama AS dan China di Proyek Vale Jadi Bukti Kepercayaan Investor

“Sehingga upaya untuk mendorong diproduksinya produk hilir yang mempunyai nilai tambah lebih besar di dalam negeri, berpotensi akan lebih besar nilainya, seiring dengan potensi investasi yang bisa dibawa oleh kedua perusahaan ini,” tutur Yusuf kepada kontan.co.id, Minggu (2/3).

Meski begitu, Yusuf menyarankan agar pemerintah bisa mengawal dengan benar, agar rencana investasi kedua perusahaan tersebut dapat ditindaklanjuti dalam komitmen yang lebih jelas.

Artinya kedua perusahaan ini betul-betul nantinya menanamkan modalnya di Indonesia dan kemudian membuka pabrik seperti yang diharapkan oleh pemerintah.

Menurutnya, pengawalan tersebut akan sangat berpengaruh pada target investasi di tahun 2023. Beberapa hal yang perlu di perhatikan diantaranya, terkait bagaimana bentuk kerjasama dari perusahaan ini, apakah kemudian kedua perusahaan telah sepakat untuk menanamkan investasi ke suatu produk hilir tertentu atau lainnya.

Kemudian, komitmen dari kedua perusahaan harus  betul-betul dipastikan untuk menjalankan investasi di dalam negeri. Sebab menurut Yusuf, selama ini melihat keinginan investasi yang disampaikan oleh investor itu tidak semuanya kemudian terealisasikan sesuain kesepakatan awal.

Baca Juga: Kongsi Ford Motor, Vale Indonesia, Zhejiang Huayou Garap Bisnis Nikel di Indonesia

“Sehingga bagaimana upaya pemerintah dalam menjaga agar komitmen kedua perusahaan ini bisa terealisasikan adalah hal yang kemudian juga akan ikut menentukan bagaimana langkah ke-20% ini dalam mempengaruhi target investasi di tahun 2023,” katanya.

Setidaknya, kata Yusuf, jika komitmen investasi kedua perusahaan tersebut dapat dikawal dan bsia terealisasikan dengan baik, maka peluang tercapainya target investasi di tahun 2023 yakni sebesar Rp 1.400 triliun terbuka sangat lebar. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto