Ekonom: Dampak Relaksasi DHE SDA Bergantung pada Penggunaan Devisa Eksportir



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelonggaran aturan penempatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) tidak serta-merta menekan nilai tukar rupiah. Dampaknya terhadap pasar keuangan domestik disebut akan bergantung pada bagaimana eksportir menggunakan devisa hasil ekspornya.

Untuk diketahui, pemerintah memberikan relaksasi kepada eksportir sektor pertambangan nonmigas yang memenuhi sejumlah kriteria. Melalui kebijakan ini, eksportir cukup menempatkan minimal 30% DHE SDA selama tiga bulan. Ketentuan tersebut lebih longgar dibandingkan aturan umum yang mewajibkan penempatan 100% DHE SDA selama minimal 12 bulan.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurrahman menyatakan, penggunaan DHE setelah masuk ke dalam negeri akan menentukan dampaknya terhadap ketersediaan valuta asing (valas).


Baca Juga: Perluasan Mitra DHE SDA Buka Peluang Investasi, Risiko Rekayasa Saham Mengintai

"Saldo valas di perbankan bisa berkurang jika dana lebih cepat dipakai untuk membayar impor atau utang luar negeri," ungkapnya kepada Kontan, Minggu (8/11/2026).

Sebaliknya, jika eksportir menukar lebih banyak dolar AS ke rupiah untuk membiayai kegiatan usahanya di dalam negeri, pasokan valas di pasar domestik justru bisa bertambah.

Rizal mengatakan, evaluasi Kementerian Keuangan (Kemenkeu) pada Juni-Agustus 2026 menunjukkan konversi DHE SDA nonmigas ke rupiah turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, penempatan DHE dalam bentuk valas bertumbuh.

"Evaluasi Kemenkeu sebelum perluasan ini memperlihatkan bahwa kedua indikator bisa bergerak berlawanan. Pada Juni–Agustus 2026, konversi DHE SDA nonmigas ke rupiah turun 37,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sementara penempatan dalam valas justru meningkat," ujarnya.

Menurut Rizal, dampak kebijakan ini perlu dilihat dari tambahan devisa yang digunakan untuk pembayaran ke luar negeri dibandingkan dengan aturan umum. Sebab, aturan yang berlaku sebelumnya juga sudah memberikan ruang bagi eksportir untuk menggunakan DHE guna membayar impor dan pinjaman tertentu.

Ia menggambarkan, dari setiap US$ 1 miliar DHE yang memperoleh fasilitas relaksasi, hingga US$ 700 juta dapat digunakan lebih leluasa dalam tiga bulan pertama. Jika porsi dana yang digunakan untuk pembayaran ke luar negeri meningkat 10 poin persentase, tambahan arus devisa keluar bisa mencapai US$ 100 juta untuk setiap US$ 1 miliar DHE.

"Besaran setelah perluasan bergantung pada nilai DHE eksportir yang baru, serta fasilitas dan pola pembayarannya," imbuhnya.

Rizal menambahkan, penggunaan DHE untuk membayar impor atau utang luar negeri secara bersamaan oleh sejumlah eksportir besar berpotensi mengurangi simpanan valas di bank domestik.

Akan tetapi, kondisi tersebut belum tentu memberikan tekanan besar terhadap rupiah. Pasalnya, pembayaran langsung menggunakan DHE dapat menggantikan kebutuhan eksportir membeli dolar AS di pasar domestik.

"Namun, dampaknya terhadap rupiah bisa lebih terbatas jika pembayaran langsung dari DHE menggantikan pembelian dolar yang biasanya dilakukan eksportir di pasar domestik," pungkasnya.

Baca Juga: Lahan Eks Tambang MHU 137 Hektare Dialihkan ke Kemhan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News