Ekonom: Dunia Usaha Masih Ekspansi, Tapi Semakin Hati-Hati



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemulihan sektor industri pada awal 2026 menunjukkan sinyal yang tidak sepenuhnya selaras. Di satu sisi, aktivitas produksi masih tumbuh dan berada di zona ekspansi. 

Namun di sisi lain, penyerapan tenaga kerja justru belum ikut menguat, mencerminkan bahwa kualitas pemulihan ekonomi belum sepenuhnya solid.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai kondisi ini menunjukkan bahwa ekspansi manufaktur belum bersifat padat karya.


Berdasarkan data Purchasing Managers’ Index (PMI) kuartal I 2026 yang dirilis Bank Indonesia, indeks manufaktur tercatat naik ke level 52,03. Kenaikan tersebut didorong oleh volume produksi yang mencapai 54,07, volume persediaan barang jadi 54,43, serta total pesanan sebesar 53,20.

Baca Juga: Dunia Usaha Melambat di Awal 2026, Kadin Soroti Pelemahan Daya Beli Masyarakat

Namun, komponen tenaga kerja justru masih berada di zona kontraksi, dengan indeks turun ke 48,76 dari 48,80 pada kuartal sebelumnya.

"Artinya, pabrik memang masih menambah output, tetapi tambahan output itu lebih banyak ditopang oleh pemakaian kapasitas yang sudah ada, pengelolaan persediaan, dan efisiensi proses kerja, bukan oleh ekspansi penyerapan tenaga kerja baru," ujar Josua kepada KONTAN, Jumat (17/4/2026).

Ia menjelaskan, fenomena ini bukanlah kontradiksi, melainkan menunjukkan adanya jarak antara pertumbuhan produksi dan pertumbuhan tenaga kerja. Dunia usaha masih mampu meningkatkan output, tetapi belum cukup yakin untuk melakukan perekrutan secara agresif.

Kondisi tersebut juga tercermin dalam Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dirilis Bank Indonesia. Pada sektor industri pengolahan, kegiatan usaha tercatat meningkat, namun penggunaan tenaga kerja justru semakin terkontraksi.

Menurut Josua, penurunan tenaga kerja antara lain disebabkan oleh pegawai yang memasuki masa pensiun dan belum digantikan, serta langkah perusahaan dalam mengoptimalkan proses kerja.

Di sisi eksternal, tekanan global turut memengaruhi keputusan dunia usaha.

Data PMI manufaktur global yang dirilis S&P Global pada Maret 2026 menunjukkan penurunan output dan pesanan baru di akhir kuartal, disertai kenaikan harga bahan baku dan gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah.

Baca Juga: Hak Restitusi Tak Utuh, Imbalan Bunga Pajak Dipersoalkan

Dalam situasi tersebut, perusahaan cenderung menahan rekrutmen dan memperketat biaya, meskipun aktivitas produksi secara keseluruhan masih berada di zona ekspansi.

Lebih lanjut, Josua menilai tren perlambatan SKDU dalam tiga kuartal terakhir lebih mencerminkan moderasi kegiatan usaha, bukan pelemahan tajam. Pada kuartal I 2026, Saldo Bersih Tertimbang (SBT) tercatat sebesar 10,11, sedikit menurun dari 10,61 pada kuartal IV-2025.

Perlambatan ini terjadi meskipun terdapat faktor musiman yang biasanya menopang aktivitas ekonomi, seperti hari besar keagamaan dan musim panen, yang mengindikasikan bahwa laju pertumbuhan usaha mulai kehilangan momentum.

Ia mengidentifikasi beberapa faktor penyebab. Dari sisi domestik, permintaan dinilai belum merata, dengan daya beli kelompok menengah bawah yang masih tertahan. Dari sisi korporasi, pelaku usaha cenderung menahan ekspansi dan lebih mengandalkan dana internal dibandingkan mencari pembiayaan baru.

Selain itu, ketidakpastian global yang masih tinggi, mulai dari geopolitik hingga gangguan rantai pasok, turut menekan kepercayaan dunia usaha.

Baca Juga: Proyek Coretax Serap Anggaran Rp 1,26 Triliun dari 2021-2025, Begini Rinciannya!

Meski demikian, ia menekankan bahwa perlambatan ini bukan disebabkan oleh hambatan pembiayaan. Dalam SKDU, akses kredit perbankan justru dinilai lebih mudah, sementara tingkat utilisasi kapasitas produksi juga meningkat.

"Masalah utamanya lebih pada kehati-hatian dunia usaha, penjualan yang tidak sekuat harapan, penurunan likuiditas dan rentabilitas dibanding kuartal sebelumnya, serta kenaikan biaya bahan baku dan operasional yang menekan margin," katanya.

Secara keseluruhan, ia menyimpulkan bahwa ekonomi usaha Indonesia pada awal 2026 masih berada di jalur ekspansi, namun dengan kualitas yang melambat.

"Jadi fokus masalahnya bukan sekadar pembiayaan, melainkan gabungan antara efisiensi perusahaan, kehati-hatian ekspansi, daya beli yang belum sepenuhnya pulih, dan ketidakpastian eksternal yang kembali menekan kepercayaan pelaku usaha," pungkas Josua.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News