Ekonom: Harga minyak dunia anjlok perlu diwaspadai



JAKARTA. Dua hal mencolok yang saat ini terjadi yaitu rupiah yang melemah dan harga minyak dunia yang anjlok. Tarikan dua komponen ini menyebabkan anggaran berfluktuasi.

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih berpendapat, sensitivitas rupiah dan harga minyak sangat tinggi terhadap anggaran. Sebagian besar komponen APBN masih berbasis dollar terutama untuk PNBP migas yang berasal dari royalti tambang.

Antara rupiah dan harga minyak, menurut Lana, yang perlu diwaspadai adalah harga minyak dunia yang sangat anjlok. Anjloknya harga minyak ini memberatkan ekspor Indonesia yang sebagian besar berbasis komoditas.


Jika ekspor anjlok, penerimaan negara pun turun. "Harga minyak lebih berdampak ke anggaran kita," ujar Lana ketika dihubungi KONTAN, Rabu (7/1). Untuk rupiah, dirinya masih optimistis rata-rata pergerakannya hingga akhir tahun bisa sebesar Rp 12.200. Saat ini tekanan terhadap rupiah memang cukup besar, namun ke depannya bisa kembali stabil.

Apalagi ada potensi peringkat utang Indonesia naik karena reformasi kebijakan yang telah dilakukan pemerintah. Dampak peringkat utang naik adalah inflow yang besar dan bisa menambah cadangan devisa.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News