KONTAN.CO.ID - Salah satu instrumen utama yang digunakan Federal Reserve (The Fed) untuk menstabilkan pasar keuangan global saat krisis berpotensi dipolitisasi atau “dijadikan senjata” oleh pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, kata ekonom Universitas Harvard Kenneth Rogoff, mantan kepala ekonom Dana Moneter Internasional (IMF). Instrumen yang dimaksud adalah fasilitas swap line The Fed, yang memungkinkan bank sentral AS meminjamkan dolar kepada bank sentral negara lain pada saat gejolak pasar. Fasilitas ini berfungsi sebagai jalur likuiditas penting dan digunakan secara masif selama krisis keuangan global hampir dua dekade lalu.
Baca Juga: Pelaku Pasar Menanti Kinerja Keuangan Perusahaan Teknologi Magnificent Seven di AS Kekhawatiran terhadap arah kebijakan AS meningkat sejak Trump kembali menjabat tahun lalu, terutama menyusul ancaman tarif terhadap sekutu Eropa yang mengguncang asumsi lama mengenai stabilitas kebijakan Washington. Rogoff, yang kini mengajar di Harvard, mengatakan swap line berpotensi digunakan sebagai alat tekanan politik oleh pemerintah AS. “Persenjataan dolar bukan hal baru, itu sudah terjadi sejak 1950-an. Namun saya tidak akan terkejut jika pemerintahan Trump menggunakan instrumen ini, misalnya melalui swap line,” ujar Rogoff kepada Reuters saat berkunjung ke London Rabu (28/1/2026). “Sebagai contoh, fasilitas ini bisa digunakan terhadap Meksiko jika terjadi perselisihan terkait tarif,” tambahnya. Tahun lalu, kebijakan tarif impor besar-besaran Trump sempat memicu perdebatan di kalangan pejabat Eropa mengenai perlunya membangun alternatif penyangga likuiditas di luar The Fed, termasuk dengan mengonsolidasikan cadangan dolar yang dimiliki bank sentral non-AS guna mengurangi ketergantungan pada Washington.
Baca Juga: Royalti Spotify 2025 Tembus US$11 Miliar, Pecahkan Rekor Industri Musik! AS selama ini diuntungkan oleh tingginya permintaan global terhadap aset-asetnya, termasuk dolar AS sebuah keistimewaan yang kerap disebut sebagai “exorbitant privilege.” Dalam perkembangan terbaru, analis juga mencermati dinamika geopolitik terkait Argentina, setelah AS memberikan dukungan likuiditas kepada negara tersebut, yang sebelumnya telah memiliki perjanjian swap line senilai US$18 miliar dengan China. Namun, retorika mengenai potensi ketegangan AS–China terkait dukungan likuiditas tersebut tidak berkembang lebih jauh. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan menyatakan akhir tahun lalu bahwa Washington memperoleh keuntungan dari pengaturan tersebut. Menanggapi upaya Eropa meningkatkan ketahanan finansialnya, Rogoff menilai swap line akan menjadi lebih bermakna “setelah infrastruktur operasional di belakang layar benar-benar dibangun.”
Baca Juga: FIFA Catat Transfer Pemain Sepakbola Rekor, Nilai Belanja US$ 13 Miliar di 2025 Sementara itu, dolar AS kembali berada di bawah tekanan setelah Trump menyatakan pada Selasa bahwa nilai tukar dolar saat ini “sangat bagus”, ketika ditanya apakah mata uang tersebut telah melemah terlalu jauh.
Rogoff menegaskan pelemahan dolar dalam jangka panjang sebenarnya sudah terjadi jauh sebelum pemerintahan Trump menginginkan dolar yang lebih lemah. Sejak Trump kembali menjabat pada Januari tahun lalu, dolar AS telah melemah sekitar 10% terhadap sekeranjang mata uang utama dan kini berada di kisaran level terendah dalam empat setengah tahun terakhir.