Ekonom IKS prediksi ekonomi 2021 bisa tumbuh hingga 6%, simak pendorongnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peneliti ekonomi senior Institut Kajian Strategis (IKS) Eric Sugandi memprediksi perekonomian Indonesia pada tahun 2021 bisa tumbuh di 6,0% yoy. 

“Ini didasarkan pada asumsi bahwa pemerintah mulai melakukan vaksinasi massal Covid-19 di kuartal I-2021. Di bulan Desember tahun ini juga sudah beberapa negara yang akan melakukan vaksinasi massal,” ujar Eric kepada Kontan.co.id. 

Eric memerinci, bila melihat dari sisi pengeluaran, sektor konsumsi rumah tangga masih akan menjadi pendorong utama pertumbuhan, diikuti oleh komponen investasi, dan belanja pemerintah. 


Belanja pemerintah lewat program pemulihan ekonomi nasional (PEN) ini akan membantu pertumbuhan ekonomi baik secara langsung maupun secara tidak langsung, lewat multiplier effect lewat konsumsi rumah tangga dan investasi. 

Sementara itu, Eric juga melihat ekspor Indonesia masih akan mendukung, karena permintaan negara-negara lain akan barang dari Indonesia akan terus tumbuh, seiring dengan pemulihan ekonomi mereka. 

Baca Juga: Ekonom Bank Permata proyeksikan ekonomi 2021 tumbuh 3%-4%

Bila dilihat dari lapangan usaha, sektor yang akan mendorong pertumbuhan 2021 terutama akan berasal dari sektor manufaktur, perdagangan, transportasi, konstruksi, kesehatan, restoran, dan akomodasi makanan. 

“Sektor-sektor lainnya juga berpotensi untuk tumbuh positif dengan cepat juga,” tambahnya. 

Di tengah optimisme tersebut, Eric masih melihat ada risiko yang bisa menghambat prospek pertumbuhan ekonomi di tahun depan. 

Dari dalam negeri, Eric khawatir muncul risiko wabah Covid-19 masih belum segera reda walau sudah ada vaksin. Apalagi, butuh waktu agar sebagian besar populasi bisa divaksinasi. 

Lalu, bisa juga muncul risiko jika konsumsi rumah tangga tidak tumbuh cepat karena masyarakat masih khawatir akan pendapatan mereka sehingga menunda konsumsi. 

Kemudian, ada juga ada risiko perusahaan-perusahaan masih belum mau agresif berinvestasi karena melihat permintaan terhadap produk mereka yang masih belum tumbuh kuat. 

Eric juga melihat adanya faktor risiko dari luar negeri, seperti adanya risiko wabah Covid-19 di negara-negara tujuan utama ekspor Indonesia sehingga ini bisa mempengaruhi permintaan dan prospek ekspor Indonesia. 

Lalu, ada juga risiko perang dagang dan/atau competitive devaluation karena nengara-negara juga ingin menggenjot ekspor mereka. 

Selanjutnya: BI proyeksikan pertumbuhan ekonomi 2021 sekitar 4,8%-5,8%, ini pendukungnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi