KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai program koperasi desa (Kopdes) dan Makan Bergizi Gratis (MBG) belum cukup untuk menjadikan desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru apabila tidak dibarengi penguatan infrastruktur, konektivitas, hingga kualitas sumber daya manusia (SDM). Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti, mengatakan seluruh desa di Indonesia pada dasarnya memiliki peluang menjadi kutub pertumbuhan ekonomi baru. Namun, hal tersebut membutuhkan syarat yang jauh lebih kompleks dibanding sekadar aliran dana dari program pemerintah.
"Saya rasa semua desa punya potensi untuk menjadi kutub-kutub pertumbuhan ekonomi baru," ujar Esther kepada Kontan, Senin (18/5/2026).
Baca Juga: Proyek Karbon Pertanian Dibidik Jadi Sumber Nilai Ekonomi Baru Menurut dia, suatu wilayah hanya bisa berkembang menjadi growth pole apabila memiliki konektivitas tinggi, aksesibilitas memadai, infrastruktur dasar yang lengkap, serta sektor ekonomi unggulan yang mampu menarik investasi dan menciptakan efek berganda bagi daerah sekitarnya. Esther menjelaskan aksesibilitas menjadi faktor utama agar distribusi barang dan jasa dapat berjalan lancar, baik melalui transportasi darat, laut, maupun udara. Selain itu, desa juga perlu didukung jaringan telekomunikasi, pasokan energi stabil, fasilitas pergudangan, pasar, hingga kawasan industri penunjang aktivitas ekonomi. “Wilayah harus mudah dijangkau melalui berbagai moda transportasi agar distribusi barang dan jasa berjalan lancar,” katanya. Dari sisi SDM, Esther menilai desa membutuhkan populasi usia produktif yang terampil dan didukung lembaga pendidikan maupun pusat pelatihan yang memadai. Menurut dia, adopsi teknologi juga menjadi faktor penting agar produktivitas dan nilai tambah komoditas lokal dapat meningkat.
Baca Juga: Perizinan dan Investasi Dinilai Jadi Kunci Pertumbungan Ekonomi RI pada 2026 Selain itu, desa perlu memiliki sektor basis yang kompetitif seperti manufaktur, pariwisata khusus, maupun industri pengolahan yang mampu menjadi penggerak investasi dan penciptaan lapangan kerja. “Jadi jika hanya MBG dan Kopdes maka belum cukup menjadikan desa menjadi kutub pertumbuhan ekonomi yang baru. Namun harus dilengkapi ini semua,” ujar Esther. Ia menilai tantangan pengembangan ekonomi desa saat ini semakin besar di tengah tren urbanisasi dan pergeseran struktur ekonomi Indonesia yang semakin terpusat di perkotaan. Karena itu, menurut Esther, keberhasilan program MBG dan Kopdes tidak hanya diukur dari besarnya perputaran dana di desa, tetapi sejauh mana program tersebut mampu menciptakan aktivitas ekonomi produktif yang berkelanjutan.
Baca Juga: Swasta Jadi Mesin Ekonomi 2026: Ekonomi Bangkit, Tantangan Struktural Membayangi Selain berpotensi meningkatkan konsumsi masyarakat desa, Esther menilai program tersebut juga dapat memberikan dampak ekonomi bagi sektor pertanian, UMKM pangan, distribusi logistik, hingga koperasi lokal apabila dijalankan secara tepat. Namun, tanpa dukungan kebijakan yang terintegrasi dan pembangunan ekosistem ekonomi desa, program tersebut dikhawatirkan hanya menjadi stimulus konsumsi jangka pendek tanpa menciptakan basis pertumbuhan ekonomi baru di daerah. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News