Ekonom Ini Menilai Dunia Belum Menuju Krisis, Tapi Volatilitas Akan Bertahan Lama



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Perekonomian global saat ini tengah menghadapi tekanan yang tinggi, namun dinilai belum mengarah pada kondisi krisis seperti yang dikhawatirkan sebagian pelaku pasar.

Meski begitu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede  mengingatkan volatilitas di pasar keuangan dan ekonomi global diperkirakan masih akan berlangsung dalam jangka panjang seiring tingginya ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan suku bunga global.

Menurut Josua, tekanan global saat ini berasal dari berbagai faktor yang terjadi secara bersamaan, mulai dari konflik di Timur Tengah, perang dagang, ketidakpastian suku bunga Amerika Serikat, hingga perlambatan ekonomi China.


Baca Juga: Ada Perang Iran Vs Israel-AS, Purbaya Siapkan Insentif EV untuk Kurangi Konsumsi BBM

"Global ini untuk saat ini kondisinya memang belum masuk dalam fase yang mengkhawatirkan ataupun cenderung mengarah kepada krisis," ujar Josua dalam Media Briefing, Selasa (12/5/2026).

Ia menjelaskan, sebagian besar negara saat ini masih ditopang oleh kebijakan fiskal dan belanja pemerintah sehingga mampu menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan eksternal.

Namun di sisi lain, Josua mengatakan kondisi pasar global kini bergerak sangat dinamis karena dipengaruhi perubahan ekspektasi suku bunga dan risiko perang yang terus berkembang.

“Volatilitas ini bukan pengecualian, tapi bagian dari lingkungan normal yang baru," katanya. 

Baca Juga: Ekonom Ini Ingatkan Bahaya Imported Inflation di Tengah Gejolak Global

Menurut dia, konflik di Timur Tengah menjadi sumber risiko terbesar saat ini karena dampaknya tidak hanya mempengaruhi sentimen pasar, tetapi juga mulai merambat ke sektor riil melalui kenaikan harga energi, biaya logistik, dan gangguan rantai pasok global.

Ia menambahkan, Indonesia masih memiliki daya tahan ekonomi yang relatif baik dibanding sejumlah negara lain karena ditopang oleh konsumsi domestik yang kuat.

Meski begitu, Josua menilai pemerintah tetap perlu menjaga kredibilitas kebijakan dan memperkuat permintaan domestik agar ekonomi nasional mampu bertahan menghadapi tekanan global berkepanjangan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News