Ekonom Ini Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Berpotensi Capai 5,44% pada Kuartal I 2026



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 diperkirakan masih cukup positif, meski tekanan ekonomi global menghantui.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memprediksi pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 berpotensi mencapai sekitar 5,44% secara tahunan (year on year/YoY). Angka proyeksi ini mencerminkan akselerasi dibandingkan periode sebelumnya.

“Pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 masih tumbuh di atas 5%, bahkan berpotensi mencapai sekitar 5,44% secara tahunan,” ujarnya kepada Kontan Senin (4/5/2026).


Baca Juga: Jelang Rilis Data PDB Kuartal I, Sejumlah Ekonom Memrediksi Ekonomi Tumbuh di Atas 5%

Ia menjelaskan, pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, serta investasi. Konsumsi rumah tangga diperkirakan tetap menjadi motor utama dengan perkiraan tumbuh sekitar 5,24%, didorong oleh seluruh siklus Ramadan dan Idulfitri yang jatuh pada kuartal I, sehingga belanja makanan, minuman, pakaian, transportasi, dan akomodasi meningkat,” jelasnya.

"Sejumlah indikator juga menunjukkan daya beli masyarakat masih terjaga. Indeks keyakinan konsumen (IKK) yang masih kuat, kenaikan porsi konsumsi masyarakat pada Maret, serta pertumbuhan penjualan eceran memperkuat gambaran bahwa konsumsi masih menjadi mesin utama ekonomi pada awal tahun," tambahnya.

Selain konsumsi, belanja pemerintah dan investasi juga menjadi pendorong penting pertumbuhan ekonomi. Konsumsi pemerintah diperkirakan tumbuh sekitar 5,21%, berbalik menguat dari kontraksi pada kuartal I-2025 karena akselerasi pencairan belanja sosial dan belanja operasional infrastruktur.

Sementara itu, investasi diproyeksikan tumbuh lebih tinggi sekitar 7,23%, didorong oleh percepatan proyek infrastruktur, hilirisasi industri, belanja modal BUMN, dan pemulihan siklus investasi setelah tahun sebelumnya relatif tertahan.

Baca Juga: Inflasi April 2026 Melandai, Ancaman Bergeser ke Energi dan Biaya Produksi

Meski demikian, ia mengingatkan adanya sejumlah risiko yang perlu diwaspadai, terutama dari sisi eksternal.

“Pelemahan rupiah tetap menjadi risiko karena dapat menaikkan biaya impor barang modal dan menahan minat investasi asing apabila tekanan pasar keuangan global berlanjut,” ujarnya.

Secara keseluruhan, Josua menilai kondisi makroekonomi Indonesia masih relatif seimbang.

"Dengan Inflasi April mereda setelah puncak musiman Ramadan dan Idulfitri, surplus dagang Maret masih terjaga, dan pertumbuhan ekonomi Kuartal I tetap solid di atas 5%,” jelasnya.

Namun demikian, ia menekankan adanya sejumlah tantangan ke depan yang perlu diantisipasi yang berasal dari kenaikan harga energi global, pelemahan rupiah, dan impor yang tumbuh lebih cepat daripada ekspor.

Ia menambahkan, kondisi tersebut berimplikasi pada ruang kebijakan ekonomi ke depan.

“Dengan demikian, ruang kebijakan moneter untuk menurunkan suku bunga menjadi lebih terbatas, sementara kebijakan fiskal perlu tetap menjaga daya beli masyarakat tanpa memperlebar tekanan subsidi dan defisit secara berlebihan,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News