Ekonom: LCS tak akan kurangi pasokan dolar AS untuk bayar utang



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) terus mendorong penguatan transaksi dengan mata uang lokal atau local currency settlement (LCS) dalam perdagangan dan investasi untuk mengurangi ketergantungan dengan dolar Amerika Serikat (AS).

Hingga kini, BI sudah menjalin kerjasama LCS dengan negara Jepang, Malaysia, Thailand, dan baru dalam pekan ini mengimplementasikan kerja sama LCS dengan China. 

Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman mengatakan, skema LCS yang sudah dijalankan oleh bank sentral dengan berbagai negara tersebut tak akan mengurangi ketersediaan dolar Amerika Serikat (AS). 


Sehingga, transaksi yang dilakukan oleh Indonesia dalam dolar AS, seperti contohnya, pembayaran utang luar negeri (ULN) tidak akan terganggu. Apalagi, sebanyak 66% dari porsi ULN  per Juni 2021 memang masih dalam dolar AS. 

Baca Juga: Kerjasama LCS Indonesia-China: Ini daftar bank yang fasilitasi transaksi yuan-rupiah

“Ini tidak akan berpengaruh pada ketersediaan dolar. Rupiah akan lebih stabil karena akan less volatile (berkurang ketidakpastiannya),” ujar Faisal kepada Kontan.co.id, Rabu (8/9). 

Faisal menjabarkan, tujuan LCS ini untuk mengurangi kebutuhan atau permintaan dolar AS dalam kegiatan perdagangan internasional dan investasi langsung dengan negara mitra. Namun, bukan berarti menghilangkan sepenuhnya transaksi dengan dolar AS. 

Nah, dengan adanya skema ini, diharapkan memang mampu memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dan memperkuat stabilitas eksternal. 

Setali tiga uang, nilai tukar rupiah perkasa, ini juga bisa menjadi sentimen positif yang menarik para investor untuk masuk ke Indonesia, sehingga masih ada potensi dollar AS yang masuk dalam investasi portofolio tersebut. 

Selain itu, pasokan dollar AS yang aman juga didorong dari perdagangan. Seperti kita ketahui, negara Paman Sam merupakan negara mitra dagang kedua Indonesia setelah China. 

Bahkan, neraca perdagangan Indonesia dengan AS selalu mencetak surplus. Alias, porsi ekspor Indonesia ke AS lebih besar. Tentu, potensi dollar AS yang masuk juga masih tinggi. 

“Nah, dengan adanya pasokan dolar AS yang masih terjaga dan lebih stabilnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ini, nantinya malah akan bisa meningkatkan kemampuan pemerintah dan swasta dalam memenuhi kewajiban ULN,” tandasnya. 

Selanjutnya: BI: Kerja sama LCS bisa digunakan untuk transaksi ritel di sektor pariwisata

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi