KONTAN.CO.ID - JAKARTA.
Tekanan inflasi pada bulan April 2026 diprediksi bakal mengalami lonjakan signifikan. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira memproyeksikan angka inflasi bisa merangkak ke level 4%-5% secara tahunan (year-on-year/yoy). Bhima menjelaskan bahwa meskipun tensi geopolitik global mulai mereda, dampak perang terhadap harga komoditas baru akan terasa pada transmisi harga di tingkat konsumen dalam waktu dekat. Fenomena ini diperparah dengan kenaikan harga LPG, BBM non-subsidi, hingga bahan baku industri seperti kemasan plastik.
"Salah satu yang dikhawatirkan adalah inflasi yang bersifat
sticky atau sulit turun. Meskipun perang mereda, harga barang terutama kemasan plastik tetap akan naik dalam tiga hingga enam bulan ke depan. Pada bulan April, inflasi sudah mulai meningkat murni karena
cost push inflation," ujar Bhima kepada Kontan, Rabu (22/4/2026).
Baca Juga: Inflasi Inti Diprediksi Naik Tipis ke 2,6%-3% pada April, Terkerek Harga Plastik Menariknya, lonjakan inflasi ini terjadi justru saat musim Lebaran telah berakhir dan di tengah kondisi daya beli masyarakat yang cenderung melambat dari sisi permintaan. Tekanan biaya produksi dan logistik akibat kenaikan BBM non-subsidi kini mulai diteruskan oleh pelaku usaha kepada konsumen akhir. Bhima menilai efisiensi yang dilakukan pelaku usaha pun sudah mencapai titik jenuh, sehingga berbagi beban biaya kepada konsumen menjadi pilihan terakhir. "Situasi ini akan mengganggu konsumsi rumah tangga pada kuartal kedua 2026. Pertumbuhan ekonomi sendiri diprediksi akan melambat karena konsumen tidak siap menghadapi kenaikan harga ini," tambahnya. Di tengah risiko perlambatan ekonomi, Bhima mengkritik langkah pemerintah yang justru menaikkan tarif PPN jalan tol. Menurutnya, pemerintah perlu segera mengeluarkan paket stimulus kebijakan untuk menjaga momentum pertumbuhan.
Baca Juga: BI Yakin Ekonomi RI 2026 Tumbuh di Rentang 4,9%-5,7% Meski Ada Gejolak Global Beberapa poin mitigasi yang diusulkan antara lain pemberian bantuan subsidi upah. subsidi transportasi publik serta penambahan armada yang lebih besar, hingga relaksasi pajak dengan menurunkan tarif PPN dari 11% menjadi 9%. Meskipun dihantui inflasi tinggi, Bhima melihat masih ada peluang untuk menahan laju perlambatan ekonomi di kuartal kedua nanti. Sektor pariwisata diharapkan menjadi penopang utama. "Momen libur sekolah di kuartal kedua harusnya bisa mendorong sektor pariwisata lokal sebagai katalis pertumbuhan," tutup Bhima. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News