Ekonom Memprediksi Defisit Neraca Jasa Bakal Melebar pada 2022



KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Defisit neraca jasa diproyeksikan semakin melebar pada tahun 2022. Dalam tiga tahun berjalan, neraca jasa Indonesia memang terus mengalami defisit yang semakin melebar.

Pada tahun 2020, defisit neraca jasa tercatat US$ 9,8 miliar. Kemudian membengkak menjadi US$ 14,7 miliar pada tahun 2021. 

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede melihat, masih ada potensi pelebaran defisit neraca jasa pada tahun 2022. Menurut perhitungannya, defisit neraca jasa pada tahun ini berpotensi naik ke kisaran US$ 15 miliar hingga US$ 16 miliar. 


Menurut Josua sumber defisit pada tahun ini dari jasa transportasi, khususnya angkutan barang. 

Baca Juga: Defisit Neraca Jasa Melebar di Kuartal II-2022

“Mengingat ada peningkatan aktivitas ekspor impor pada tahun ini, apalagi kinerja ekspor dan impor meningkat dan jasa transportasi barangnya pasti menggunakan kapal asing yang juga biasanya membayar menggunakan dolar,” terang Josua kepada Kontan.co.id, Kamis (13/10). 

Selain karena pembayaran jasa transportasi barang, Josua juga melihat adanya peluang peningkatan jasa perjalanan wisatawan nasional ke luar negeri pada tahun ini. Ini lah yang kemudian juga berpotensi memperlebar defisit neraca jasa pada tahun ini. 

Defisit neraca jasa ini memang akan memberi dampak terhadap kinerja neraca pembayaran Indonesia (NPI) di keseluruhan tahun 2022. Namun, Josua melihat dampaknya kecil, karena yang paling memberi peran bagi kinerja NPI tahun ini adalah neraca transaksi modal dan finansial. 

“Transaksi modal dan finansial juga berpotensi defisit, sejalan dengan hengkangnya arus modal asing di inevstasi portofolio khususnya di pasar obligasi. Ini yang akan lebih berpengaruh ke kinerja NPI,” terang Josua. 

Baca Juga: Mendag Zulkifli Bertemu Menteri Perdagangan & Industri Qatar, Jajaki Kerjasama

Menurut perhitungannya, NPI di akhir tahun 2022 berpotensi mencetak defisit sekitar US$ 1 miliar. 

Lebih lanjut, Josua memperkirakan defisit neraca jasa pada tahun 2023 akan menyusut. Ada potensi, defisit neraca jasa di tahun depan ada di kisaran US$ 14 miliar hingga US$ 15 miliar. 

“Ini karena kondisi harga komoditas mungkin turun, eskepktasi volume perdagangan global juga akan turun. Jadi, akan memengaruhi penurunan di kinerja ekspor impor pada tahun depan dan berpengaruh ke neraca jasa,” tandasnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Noverius Laoli