Ekonom: Penguatan Rupiah Masih Rapuh, Fundamental Belum Berubah



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah memang mulai menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) beberapa waktu terakhir. Namun, penguatan tersebut dinilai belum mencerminkan perubahan fundamental jangka panjang dan masih rentan berbalik melemah.

Sekedar mengingatkan, rupiah spot ditutup menguat 0,29% dibandingkan hari sebelumnya ke level Rp 17.693 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Jumat (28/8/2026).

Sejalan, rupiah pada kurs JISDOR juga ditutup mengalami penguatan 0,33% secara harian menjadi Rp 17.703 per dolar AS.


Baca Juga: Tarik-Menarik Dolar dan Risiko Domestik, Cek Prospek Rupiah Pekan Depan

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Dipo Satria Ramli mengatakan, memang rupiah belakangan ini mengalami penguatan, tetapi masih didominasi oleh aliran modal masuk (inflow) yang rapuh.

"Betul ada penguatan, tapi sepertinya masih didominasi oleh inflow yang rapuh, yakni didominasi sektor keuangan. Belum ada perubahan fundamental jangka panjang," ujar Dipo kepada Kontan, Jumat (28/8/2026).

Menurut dia, kondisi tersebut membuat rupiah belum dapat dikatakan stabil dalam jangka panjang. Terlebih, posisi rupiah saat ini masih jauh dari sekitar Rp 16.000 per dolar AS pada akhir tahun lalu. Dipo juga mencermati kondisi neraca eksternal Indonesia juga belum cukup kuat untuk menopang penguatan rupiah secara berkelanjutan.

Sementara itu, penetapan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2026-2031, disebut Dipo dapat meredam ketidakpastian pasar dalam jangka pendek, karena Destry merupakan orang yang telah dikenal oleh para pelaku pasar.

Dari sisi fundamental, surplus perdagangan menjadi salah satu faktor utama yang dapat menopang rupiah dalam jangka menengah hingga panjang. Sementara itu, arus portofolio lebih menentukan pergerakan rupiah dalam jangka pendek. Namun, surplus perdagangan juga menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait harga minyak dan tingginya impor.

"Arus portofolio menentukan jangka pendek. Surplus perdagangan yang sangat membantu menopang rupiah secara fundamental, menentukan jangka menengah-panjang," jelasnya.

Di sisi kebijakan moneter, Dipo melihat inflasi Indonesia masih berada dalam sasaran, meski sempat mendekati batas atas. Tingkat inflasi tahunan (year-on-year) Indonesia pada Juli 2026 tercatat sebesar 2,88%, melandai dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di angka 3,34%.

Kondisi tersebut memberikan ruang bagi BI untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level saat ini, 5,75%. Menurut dia, BI Rate yang sudah berada pada level tinggi juga memberikan ruang bagi BI untuk merespons apabila suku bunga The Fed kembali naik ke depan.

Sementara itu, dari sisi eksternal, Dipo memperkirakan The Fed cenderung mempertahankan suku bunga hingga kondisi memaksa bank sentral AS tersebut mengambil langkah pelonggaran.

"The Fed sepertinya akan terus menahan suku bunga sampai menjadi pilihan terakhir (last effort), walaupun terus ditekan oleh Trump," katanya.

Dipo juga bilang indeks dolar AS (DXY) saat ini masih relatif kuat. Selain itu, risiko geopolitik dinilai sudah cukup tercermin dalam harga pasar (priced-in). Dengan kondisi tersebut, skenario pelemahan dolar AS yang dapat menjadi katalis bagi penguatan rupiah dinilai belum menjadi skenario utama.

"Jadi walaupun USD melemah bisa menjadi katalis untuk penguatan rupiah, tapi skenario ini unlikely saat ini," ungkap Dipo.

Baca Juga: Kembangkan Midstream, Eagle High (BWPT) Pacu Ekspansi Pabrik KCP

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News