KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Inflasi tahunan tercatat meningkat ke level 2,92% per Desember 2025. Hal tersebut terutama dipicu oleh faktor musiman akhir tahun. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan, lonjakan tersebut tercermin dari inflasi bulanan yang naik tajam sebesar 0,64%, jauh lebih tinggi dibandingkan inflasi November 2025 yang hanya sebesar 0,17%. Menurut Josua, tekanan inflasi pada Desember terutama berasal dari kenaikan harga pangan yang bergejolak seiring meningkatnya permintaan selama periode Natal dan Tahun Baru.
Kondisi ini diperparah oleh gangguan pasokan dan distribusi akibat bencana alam serta cuaca ekstrem yang terjadi di sejumlah wilayah.
Baca Juga: Menko Airlangga: Konflik AS–Venezuela Belum Berdampak ke Harga BBM Domestik "Dipicu lonjakan harga pangan yang bergejolak akibat permintaan Natal dan Tahun Baru serta gangguan pasokan dan distribusi karena bencana dan cuaca esktrem," ujar Josua kepada Kontan.co.id, Senin (5/1/2026). Selain faktor pangan, kenaikan inflasi juga didorong oleh meningkatnya ongkos transportasi pada musim liburan akhir tahun. Dari sisi inflasi inti, tekanan masih terlihat akibat kenaikan harga emas serta gangguan pasokan minyak goreng yang turut menyumbang kenaikan harga secara umum. Meski demikian, Josua menilai pola kenaikan inflasi setajam Desember kecil kemungkinannya terulang pada awal 2026. Pasalnya, efek musiman libur akhir tahun biasanya mereda setelah pergantian tahun. Namun, ia mengingatkan bahwa inflasi juga tidak serta-merta turun tajam. "Bukan berarti inflasi langsung turun tajam dimana secara tahunan inflasi bisa tetap bertahan relatif tinggi karena levelnya sudah naik di akhir 2025," katanya.
Baca Juga: Inflasi 2026: Pangan dan Lebaran Dorong Kenaikan, Puncak Awal Tahun Ia menambahkan, risiko tekanan inflasi tetap ada, khususnya dari sisi harga pangan jika cuaca ekstrem masih mengganggu proses panen dan distribusi. Di sisi lain, dorongan permintaan juga berpeluang menguat seiring belanja pemerintah dan likuiditas yang menopang daya beli masyarakat, termasuk melalui program makan bergizi gratis yang menjaga permintaan pangan tetap kuat. Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Josua memperkirakan inflasi pada awal 2026 lebih mungkin bergerak bertahan di kisaran 3%. Namun, ia menilai inflasi tidak akan berlanjut menjadi lonjakan berkepanjangan selama tidak terjadi gangguan besar pada pasokan pangan atau penyesuaian signifikan pada harga yang diatur pemerintah.
"Sehingga ruang menjaga inflasi tetao terkendali masih ada," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News