Ekonom Prediksi Defisit Neraca Dagang Berlanjut, Waspada Efeknya ke Ekonomi Domestik



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kepala Ekonom Maybank Indonesia Juniman menyebut defisit neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 sebesar US$ 1,61 miliar menjadi sinyal pembalikan tren setelah surplus selama 72 bulan berturut-turut. Ia menilai kondisi tersebut berpotensi berlanjut dan perlu diwaspadai dampaknya terhadap ekonomi domestik serta nilai tukar rupiah.

Juniman menjelaskan, defisit tersebut dipicu oleh dua faktor utama. Pertama, pelemahan rupiah yang mendorong kenaikan biaya impor, terutama bagi industri dalam negeri. Kedua, tingginya harga minyak dunia pada Mei yang membuat impor migas melonjak tajam.

“Faktor utamanya ada dua. Yang pertama terkait kelemahan rupiah, yang kedua tingginya harga minyak di bulan Mei. Itu membuat impor migas melonjak dan membebani impor secara keseluruhan,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (1/7/2026).


Ia menambahkan, struktur impor Indonesia didominasi oleh barang baku dan barang modal yang mencapai sekitar 80% dari total impor, sementara barang konsumsi hanya sekitar 10%. Kondisi pelemahan rupiah mendorong pelaku industri melakukan front loading impor untuk mengamankan kebutuhan bahan baku dan mesin produksi lebih awal.

“Dengan rupiah melemah, produsen di dalam negeri bebannya tinggi, sehingga mereka impor lebih awal dalam jumlah besar untuk barang baku dan barang modal. Akibatnya impor melonjak,” jelasnya.

Di sisi lain, kinerja ekspor mengalami stagnasi bahkan perlambatan akibat melemahnya permintaan global. Menurutnya, Indonesia yang bergantung pada komoditas sumber daya alam seperti CPO dan batu bara turut terdampak oleh stagnasi harga komoditas dunia.

Baca Juga: Defisit Neraca Dagang Diprediksi Hanya Sementara, Ekonom: Ada Peluang Kembali Surplus

“Ekspor kita mayoritas SDA, sekitar 60%, terutama CPO dan coal. Harganya stagnan bahkan melambat, sehingga ekspor ikut tertahan,” katanya.

Juniman juga menyoroti bahwa tanda-tanda pembalikan neraca perdagangan sudah terlihat sejak April 2026, ketika surplus menyusut drastis menjadi hanya US$ 0,09 miliar. Kondisi ini, menurutnya, sudah mengindikasikan tekanan yang kemudian berujung pada defisit di Mei.

“Kalau lihat April sudah jelas, surplus tinggal US$ 0,09 miliar. Jadi Mei sebenarnya sudah bisa diperkirakan akan defisit,” ujarnya.

Potensi Defisit Berlanjut, Tergantung Ekspor dan Harga Minyak

Ke depan, Juniman memperkirakan tekanan defisit masih berpotensi berlanjut, meski tidak setajam Mei. Ia menilai impor masih akan tinggi karena pelaku usaha tetap melakukan front loading, meskipun harga minyak mulai menurun ke kisaran US$ 70 per barel pada Juni.

“Kalau harga minyak sudah turun, impor migas akan ikut turun. Tapi impor barang baku dan modal masih tinggi karena front loading masih terjadi,” jelasnya.

Namun, ia melihat peluang neraca perdagangan kembali membaik jika ekspor meningkat, terutama bila didukung stabilnya harga komoditas dan diversifikasi pasar tujuan ekspor.

“Kalau ekspor bisa ditingkatkan, kita bisa tahan defisit, bahkan kembali ke surplus. Tapi kalau tidak, defisit bisa berlanjut,” katanya.

Rupiah dan Tekanan Fundamental Ekonomi

Terkait pelemahan rupiah, Juniman menegaskan bahwa faktor eksternal seperti penguatan dolar AS masih menjadi tekanan utama. Namun, kondisi domestik memperburuk tekanan tersebut, termasuk pelemahan sektor manufaktur dan defisit neraca dagang, hingga inflasi.

Dengan rilisnya data berbagai indikator ekonomi tersebut, rupiah kembali mengalami pelemahan ke level Rp 17.952 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Rabu (1/7/2026), melemah 0,25% dari sehari sebelumnya yang berada di Rp 17.907 per dolar AS.

Ia menyoroti indeks PMI manufaktur Indonesia yang turun ke level 46,5 dari sebelumnya di atas 50, yang menandakan kontraksi. Kondisi ini diperparah oleh kenaikan biaya input akibat pelemahan rupiah.

Baca Juga: China Jadi Pemberat Defisit Neraca Dagang RI, AS Masih Penyumbang Surplus

Di sisi inflasi, ia menyebut adanya lonjakan inflasi tajunan dari sekitar 3,08% yoy pada Mei menjadi sekitar 3,34% yoy pada Juni yang turut memengaruhi sentimen investor.

“Investor asing akan melihat inflasi. Kalau inflasi naik, ada potensi kenaikan suku bunga, dan itu bisa mendorong outflow,” ujarnya.

Menurutnya, tekanan dari neraca perdagangan yang defisit juga akan berdampak pada neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) dan neraca pembayaran (Balance of Payment/BoP) secara keseluruhan, sehingga meningkatkan tekanan terhadap rupiah dalam jangka menengah.

Risiko ke Ekonomi Domestik: Daya Beli Tertekan

Juniman juga mengingatkan dampak lanjutan terhadap ekonomi domestik, terutama daya beli masyarakat. Ia menyebut pelemahan rupiah yang bertahan di sekitar Rp18.000 berpotensi mendorong kenaikan harga barang di dalam negeri.

“Produsen akan menaikkan harga jual. Ini bisa memicu inflasi, sementara kenaikan pendapatan masyarakat tidak secepat itu,” katanya.

Kondisi tersebut, lanjutnya, dapat menekan konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penopang utama ekonomi Indonesia dengan kontribusi sekitar 54%.

“Kalau konsumsi melambat, ekonomi juga melambat. Karena konsumsi adalah komponen terbesar dalam PDB,” ujarnya.

Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026 akan melambat ke kisaran 5,1%–5,3% dari 5,61% pada kuartal sebelumnya. Tren perlambatan juga berpotensi berlanjut pada kuartal III di kisaran 5%–5,2% akibat tekanan daya beli dan kenaikan biaya hidup.

“Secara struktural ekonomi akan tertekan oleh daya beli yang melambat dan biaya hidup yang naik,” pungkasnya.

Baca Juga: Neraca Dagang Defisit US$ 1,61 Miliar pada Mei 2026, Perdana Setelah Surplus 72 Bulan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News