Ekonom Prediksi Tekanan Inflasi Lebih Tinggi pada Semester II 2026, Ini Pemicunya



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Head of Macroeconomic and Financial Market Research PermataBank, Faisal Rachman, menilai tekanan inflasi Indonesia pada paruh kedua (semester II) 2026 masih berpotensi meningkat, seiring berlanjutnya transmisi kenaikan biaya produksi, termasuk imported inflation, ke harga beli konsumen.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Inflasi naik menjadi 0,44% secara bulanan (mtm) dan 3,34% secara tahunan (yoy) pada Juni 2026, dari bulan sebelumnya inflasi 0,28% mtm atau 3,08% yoy pada Mei 2026.

Sementara itu Faisal memprediksi tren inflasi sepanjang sisa 2026 akan cenderung lebih tinggi dibandingkan semester I, terutama dipengaruhi oleh tekanan dari sisi penawaran (supply side pressures) dan imported inflation akibat pelemahan rupiah yang mendorong Bank Indonesia masih mempriotitaskan stabilitas.


“Potensi guncangan dari sisi penawaran dapat memberikan tekanan kenaikan inflasi sepanjang sisa 2026,” ujar Faisal, Rabu (1/7/2026).

Baca Juga: Inflasi Inti Juni Naik Jadi 2,76% YoY dan 0,23% MtM, Ini Pemicunya

Dari sisi eksternal, ia menyoroti imported inflation masih menjadi risiko utama, seiring kenaikan biaya bahan baku impor yang kemudian diteruskan ke harga domestik. Ketidakpastian global terkait proses perdamaian AS–Iran dan arah kebijakan The Fed juga disebut berpotensi memicu kondisi risk off, menahan arus modal masuk, dan menekan stabilitas rupiah.

“Kondisi tersebut dapat melemahkan rupiah dan meningkatkan imported inflation, terutama melalui bahan baku dan barang konsumsi impor,” jelasnya.

Dari sisi domestik, kebijakan fiskal ekspansif pemerintah diperkirakan mendorong pertumbuhan jumlah uang beredar (M2), yang turut menambah tekanan inflasi. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga dinilai dapat meningkatkan permintaan pangan, sehingga memperbesar risiko inflasi pangan bergejolak apabila tidak diimbangi peningkatan produksi dan distribusi.

Selain itu, potensi fenomena El Nino Godzilla juga menjadi risiko tambahan yang dapat mengganggu produksi pertanian dan memperkuat tekanan inflasi pangan.

Meski demikian, tekanan inflasi tersebut diperkirakan sebagian tertahan oleh output gap negatif Indonesia, yang mencerminkan permintaan domestik masih belum kuat. Dengan kondisi itu, inflasi diperkirakan tetap berada dalam target Bank Indonesia di kisaran 1,5%–3,5%.

Faisal memperkirakan inflasi akhir 2026 berada di sekitar 3,13%, dengan asumsi harga energi bersubsidi tidak berubah. Namun, jika terjadi lonjakan harga energi global akibat eskalasi geopolitik, inflasi berpotensi melampaui proyeksi dan memperkuat tekanan imported inflation lebih lanjut.

Baca Juga: BPS: Inflasi Tahunan Juni 2026 Naik Jadi 3,34%, Dipicu Kenaikan Harga Pangan

Ia juga menilai risiko kenaikan suku bunga Bank Indonesia masih terbuka jika tekanan inflasi memburuk. Namun demikian, skenario dasar pihaknya adalah BI mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%, karena kenaikan sebelumnya dianggap sudah mengantisipasi potensi kenaikan Fed Funds Rate (FFR) hingga akhir 2026.

Inflasi Juni 2026 Masih Dipicu Imported Inflation

Menurut Faisal inflasi Indonesia pada Juni 2026 yang kembali meningkat, dengan tekanan utama berasal dari kenaikan biaya input impor yang memicu imported inflation ke harga konsumen.

Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) naik menjadi 0,44% secara bulanan (mtm) atau 3,34% secara tahunan (yoy) pada Juni 2026, dari 0,28% mtm atau 3,08% yoy pada Mei 2026.

Kenaikan ini terutama dipicu depresiasi rupiah yang meningkatkan biaya input impor dan memperkuat imported inflation di berbagai kelompok barang. Kelompok transportasi menjadi pendorong utama inflasi dengan kontribusi 0,28 poin persentase (ppt), diikuti makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,06 ppt.

Inflasi inti tercatat 0,23% mtm dengan kontribusi 0,15 ppt, terutama berasal dari pelumas mesin, telepon seluler, dan minyak goreng. Secara tahunan, inflasi inti naik menjadi 2,76% yoy.

Sementara itu, harga yang diatur pemerintah (administered prices) naik 1,41% mtm, terutama dipengaruhi kenaikan harga BBM non-subsidi dan tarif transportasi udara.

Adapun inflasi volatile food naik 0,14% mtm, dipicu kenaikan harga bawang merah, bawang putih, dan beras yang juga dipengaruhi faktor pasokan serta kenaikan biaya impor pada komoditas tertentu.

Baca Juga: Inflasi Juni 2026 Capai 0,44%, Dipicu Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi & Tarif Angkutan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News