KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Sejumlah ekonom menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 akan tumbuh solid, namun pencapaian target pemerintah sebesar 5,4% samapi 6% cukup menantang. Proyeksi ekonom saat ini cenderung berada di kisaran 5,1%-5,2%, sejalan dengan proyeksi terbaru OECD dan Asian Development Bank (ADB).
Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita mengatakan, pihaknya memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di sekitar 5,2% secara tahunan. "Menurut kami, pertumbuhan ekonomi 2026 masih akan solid, tetapi kemungkinan berada di bawah target pemerintah. Kami memperkirakan pertumbuhan tahun ini sekitar 5,2% yoy, sejalan dengan proyeksi terbaru ADB dan OECD di 5,2%," kata Ronny kepada Kontan, Kamis (24/9/2024).
Baca Juga: Ekonom Proyeksi Ekonomi 2026 Tumbuh 5,1%-5,2%, di Bawah Target Pemerintah Menurut Ronny, kinerja ekonomi pada semester I 2026 memang cukup kuat. Namun, untuk mencapai pertumbuhan 5,4% secara penuh sepanjang tahun, ekonomi Indonesia membutuhkan pertumbuhan yang relatif tinggi pada semester II. Kondisi tersebut dinilai tidak mudah karena sejumlah faktor mulai menahan momentum pertumbuhan, mulai dari ketidakpastian global, suku bunga yang lebih tinggi, tekanan harga energi hingga ruang konsumsi domestik yang tidak sekuat pada semester I. "Untuk mencapai 5,4% secara full year, pertumbuhan di semester II perlu tetap relatif tinggi. Kami melihat hal tersebut cukup menantang karena ada beberapa faktor yang mulai menahan momentum," ujarnya. Meski demikian, Ronny melihat masih ada sejumlah faktor yang dapat menopang perekonomian. Investasi dinilai relatif resilien, terutama investasi yang berkaitan dengan hilirisasi, infrastruktur, data center, dan ekonomi digital.
Baca Juga: Lampaui Proyeksi OECD dan ADB, Suahasil Optimistis Ekonomi RI Tumbuh 6% di 2026 Selain itu, percepatan belanja pemerintah pada semester II, termasuk melalui penggunaan Saldo Anggaran Lebih (SAL), berpotensi memberikan tambahan dorongan terhadap aktivitas ekonomi domestik. "5,4% masih mungkin secara aritmetika, tetapi membutuhkan akselerasi yang cukup kuat di semester II. Baseline kami tetap lebih konservatif di sekitar 5,2% untuk 2026," kata Ronny. Ia menambahkan, risiko terhadap pertumbuhan ekonomi ke depan relatif berimbang. Akselerasi belanja pemerintah dan investasi dapat menjadi faktor pendorong pertumbuhan, sementara harga energi, tekanan terhadap rupiah, serta kondisi global menjadi risiko yang dapat menahan laju ekonomi. Pandangan lebih konservatif disampaikan Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sebesar 5,1%. Sementara itu, OECD dalam
Economic Outlook Interim September 2026 memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2% pada 2026 dan 5,1% pada 2027. OECD menilai pertumbuhan Indonesia tetap relatif stabil dengan dukungan perbaikan terms of trade terhadap investasi. ADB juga mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2% pada 2026 dan 2027.
Namun, ADB menaikkan proyeksi inflasi Indonesia menjadi 3,3% pada 2026 dari sebelumnya 3% dan menjadi 3% pada 2027 dari 2,5%. Baca Juga: Presiden Prabowo Segera Bentuk Badan Baru, Urusi Masalah Gambut Menurut ADB, risiko terhadap prospek ekonomi Indonesia antara lain berasal dari ketegangan geopolitik, gangguan pasokan energi, El Nino, kondisi keuangan yang ketat, serta ketidakpastian kebijakan perdagangan. Risiko harga energi juga menjadi perhatian. OECD memperkirakan harga minyak Brent dapat mencapai rata-rata sekitar US$ 105 per barel pada kuartal IV 2026 sebelum turun secara bertahap pada 2027. Kenaikan harga energi berpotensi menekan daya beli rumah tangga sekaligus meningkatkan biaya produksi perusahaan.
Di sisi lain, OECD mencatat pertumbuhan Indonesia pada kuartal II 2026 masih cukup kuat, yakni 5,3% secara tahunan. Secara kuartalan, ekonomi Indonesia tumbuh 1,3% pada kuartal II, relatif sama dengan kuartal sebelumnya. Dengan kondisi tersebut, untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi, Indonesia tetap membutuhkan akselerasi yang cukup besar pada semester II. Percepatan belanja pemerintah dan investasi menjadi faktor penting untuk menjaga momentum pertumbuhan di tengah meningkatnya tekanan dari sisi eksternal. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News