KONTAN.CO.ID – JAKARTA.
Industri perbankan tampaknya perlu bersiap untuk bergelut dengan tantangan likuiditas pada paruh kedua tahun 2026. Chief Economist BSI Banjaran Surya Indrastomo memperkirakan rasio kredit terhadap pendanaan (
loan to deposit ratio/LDR) industri perbankan bakal bertengger di atas 90% hingga akhir tahun. Untuk diketahui, per April 2026 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat LDR perbankan ada di posisi 86,88%, meningkat dari 84,64% pada bulan sebelumnya.
Banjaran melihat saat ini upaya menurunkan LDR bukan perkara mudah sebab artinya bank dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama menantang, yakni memperbesar penghimpunan dana atau menahan laju penyaluran kredit dan pembiayaan.
Baca Juga: CIMB Niaga Pastikan Belum Ada Penyesuaian Target Meski BI Rate Naik "Kayaknya LDR tinggi ini masih berlanjut sampai akhir tahun, di atas 90%," ujar Banjaran, dikutip Minggu (21/6/2026). Dari sisi kredit, ia bilang ruang untuk memperlambat pertumbuhan relatif terbatas. Meski permintaan pembiayaan dari segmen korporasi untuk kebutuhan modal kerja mulai melandai, permintaan dari sektor konsumen dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menurutnya masih cukup kuat. Di sisi lain, penghimpunan dana juga tak mudah. Banjaran menilai sumber-sumber likuiditas baru masih terbatas di tengah meredanya momentum kenaikan harga komoditas global. Ia melihat salah satu penopang likuiditas pada semester II bisa berasal dari aksi korporasi, baik di sektor keuangan, perbankan maupun pasar modal, terutama yang berkaitan dengan penghimpunan dana dalam mata uang dolar AS.
Baca Juga: OJK Tunggu Arah Revisi Bisnis Bank 2026, Optimisme Ekonomi Mulai Menguat "Pertanyaan terbesarnya sekarang, likuiditas dari mana lagi? Mungkin nanti ada aksi-aksi korporasi di semester II yang bisa membantu," katanya. Selain itu, Banjaran menyoroti potensi masuknya aliran dana asing (hot money) dan peningkatan penerimaan devisa ekspor sebagai faktor yang dapat membantu memperbaiki kondisi likuiditas perbankan dan menopang nilai tukar rupiah. Secara umum, Banjaran menilai tekanan terhadap industri perbankan mulai terlihat sejak kuartal II-2026. Salah satu indikatornya adalah margin bunga bersih atau
net interest margin/NIM) yang mulai tergerus akibat kenaikan biaya dana (cost of fund). Saat ini, ia bilang bank memang menghadapi dilema karena harus tetap menawarkan bunga kredit yang kompetitif di tengah meningkatnya biaya penghimpunan dana. Kondisi ini pada akhirnya menekan profitabilitas industri. Dalam situasi tersebut, Banjaran menilai bank yang memiliki basis transaksi kuat dan sumber pendapatan berbasis komisi (fee based income) bakal lebih diuntungkan ketimbang bank yang masih bergantung pada pendapatan bunga atau margin pembiayaan. Pun, ia melihat tekanan likuiditas ini dirasakan oleh seluruh kelompok bank, baik bank besar, menengah, maupun kecil. Namun tantangan yang dihadapi masing-masing berbeda.
Baca Juga: Kredit Perbankan Tumbuh 11,5%, Tapi Pertumbuhan Tidak Dirasakan Semua Bank Bank-bank besar masih memiliki kemampuan untuk menyerap penurunan margin berkat basis dana dan skala usaha yang lebih kuat. Sebaliknya, bank berukuran kecil menghadapi tekanan lebih besar karena harus bersaing dalam penghimpunan dana dengan menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi. "Secara posisi di pasar uang antarbank, banyak bank yang kondisinya short likuiditas. Itu yang harus dipahami bersama," katanya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News