Ekonom Sebut Defisit APBN per April 2026 Terburuk dalam 10 Tahun



KONTAN.CO.ID-JAKARTA Ekonom Bright Institute Awalil Rizky menilai defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga April 2026 sebesar Rp 164,4 triliun belum mencerminkan kinerja fiskal yang baik. 

Menurutnya, narasi pemerintah yang menyebut kondisi APBN April lebih baik dibandingkan Maret cenderung berlebihan karena pola tersebut terjadi hampir setiap tahun. 

Awalil menjelaskan, perbaikan posisi defisit dari Rp 240,1 triliun pada Maret menjadi Rp 164,4 triliun pada April dipengaruhi faktor musiman, terutama peningkatan penerimaan pajak badan yang umumnya terjadi setelah batas pelaporan pajak pada April. 


Karena itu, ia menilai perbandingan April dengan Maret kurang tepat untuk menggambarkan kualitas pengelolaan APBN. 

Baca Juga: Jemaah Haji Indonesia Mulai Didorong ke Arafah untuk Menjalani Wukuf

Ia menyoroti bahwa secara historis kondisi APBN pada April memang selalu lebih baik dibandingkan Maret. Namun, jika dibandingkan dengan periode yang sama dalam 10 tahun terakhir, defisit APBN April 2026 justru menjadi yang paling lebar. 

Awalil menyebut kondisi tersebut menunjukkan kinerja fiskal belum pulih sepenuhnya meskipun lebih baik dibandingkan 2025. 

"Defisit Rp 164,4 triliun ini tidaklah menunjukkan kinerja pengelolaan APBN yang baik," kata Awalil dalam kanal Youtube pribadinya, dikutip Senin (25/5).

Dari sisi pendapatan negara, Awalil mengakui realisasi hingga April 2026 mencapai Rp 918,4 triliun atau tumbuh 13,3% dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, ia menilai capaian tersebut masih lebih rendah dibandingkan realisasi pada 2023 dan 2024. 

Menurutnya, kenaikan penerimaan tahun ini juga dipengaruhi efek basis rendah atau low base effect akibat lemahnya penerimaan pada 2025. 

Ia juga menilai kinerja penerimaan pajak belum dapat dikatakan pulih. Awalil menyebut realisasi pajak sebesar Rp 646,3 triliun memang tumbuh 16,09% dibandingkan tahun lalu, tetapi masih lebih rendah dibandingkan capaian 2023. 

Selain itu, persentase capaian pajak terhadap target APBN dinilai belum menunjukkan performa yang kuat. 

"Saya mau menekankan, dinarasikan seperti apa pun pemerintah masih harus berjuang untuk pajak ini masih berat lah karena kondisi ekonomi," imbuhnya.

Di sisi belanja negara, Awalil menyoroti lonjakan belanja pemerintah pusat yang tumbuh 51% dibandingkan periode sama tahun lalu. Ia menyebut peningkatan tajam tersebut dipicu oleh belanja program Makan Bergizi Gratis (MBG), pembayaran tunjangan ASN, serta kenaikan belanja modal institusi seperti Polri dan Kementerian Pertahanan. 

Menurut Awalil, belanja negara hingga April 2026 menjadi yang terbesar dalam 10 tahun terakhir untuk periode empat bulan pertama pelaksanaan APBN. 

Ia juga mencatat kenaikan subsidi dan kompensasi energi akibat pemerintah menahan harga BBM dan listrik turut memperbesar tekanan terhadap belanja negara. 

Secara keseluruhan, Awalil menyimpulkan kondisi APBN hingga April 2026 memang lebih baik dibandingkan 2025, namun belum dapat disebut sehat atau pulih. 

Ia menilai pemerintah masih menghadapi tantangan besar dalam menjaga keberlanjutan fiskal di tengah tekanan belanja dan penerimaan yang belum sepenuhnya kuat.

Baca Juga: DJP Siapkan Aturan Restitusi PPN untuk Ekspor SDA Lewat Danantara DSI

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News