KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Waste to Energy (WtE) dinilai memilki risiko yang cukup tinggi bagi keuangan negara. Meski menarik minat investor global berkat kepastian kontrak jangka panjang, skema pengembangan pembangkit energi berbasis sampah ini dianggap membutuhkan dukungan subsidi yang besar dari pemerintah. Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin menjelaskan bahwa PSEL merupakan proyek berbiaya tinggi dengan porsi produksi listrik yang relatif terbatas. Hal inilah yang membuat para investor menuntut adanya garansi jangka panjang dari pemerintah, baik berupa komitmen pasokan sampah harian maupun jaminan pembelian pasokan arus listrik secara berkesinambungan. "PSEL adalah proyek mahal yang hanya jalan jika ada subsidi pemerintah. Selain biaya investasi dan biaya pengumpulan sampah yang mahal, listrik yang dihasilkan pun hanya sedikit, tidak signifikan. Makanya, investor memerlukan jaminan jangka panjang (yang sesungguhnya guaranteed IRR) dari pemerintah dalam bentuk komitmen pembelian listrik dan supply sampah," ujarnya kepada KONTAN, Minggu (26/7/2026).
Ekonom Sebut Proyek PSEL Berisiko Bebani Fiskal dan Butuh Subsidi Pemerintah
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Waste to Energy (WtE) dinilai memilki risiko yang cukup tinggi bagi keuangan negara. Meski menarik minat investor global berkat kepastian kontrak jangka panjang, skema pengembangan pembangkit energi berbasis sampah ini dianggap membutuhkan dukungan subsidi yang besar dari pemerintah. Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin menjelaskan bahwa PSEL merupakan proyek berbiaya tinggi dengan porsi produksi listrik yang relatif terbatas. Hal inilah yang membuat para investor menuntut adanya garansi jangka panjang dari pemerintah, baik berupa komitmen pasokan sampah harian maupun jaminan pembelian pasokan arus listrik secara berkesinambungan. "PSEL adalah proyek mahal yang hanya jalan jika ada subsidi pemerintah. Selain biaya investasi dan biaya pengumpulan sampah yang mahal, listrik yang dihasilkan pun hanya sedikit, tidak signifikan. Makanya, investor memerlukan jaminan jangka panjang (yang sesungguhnya guaranteed IRR) dari pemerintah dalam bentuk komitmen pembelian listrik dan supply sampah," ujarnya kepada KONTAN, Minggu (26/7/2026).
TAG: