Ekonom: Serapan anggaran yang tinggi bisa memicu aliran masuk modal asing



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di pekan keempat April 2021, tampak adanya aliran modal asing yang masuk ke pasar keuangan dalam negeri. Berdasarkan data transaksi Bank Indonesia (BI) periode 19 April 2021 hingga 22 April 2021, asing di pasar keuangan domestik beli neto Rp 3,88 triliun. 

Ekonom makroekonomi dan pasar keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky melihat, adanya aliran modal asing yang masuk dalam pekan keempat ini disebabkan oleh dua hal. “Pertama, adanya rilis data ekonomi yang menunjukkan sentimen positif dan kedua, ada performa yang cukup baik di sisi perbankan,” ujar Riefky kepada Kontan.co.id, Minggu (25/4). 

Riefky lalu memerinci, sentimen positif dari data ekonomi ditunjukkan adanya serapan anggaran yang cukup tinggi dan mendorong sentimen positif ekonomi Indonesia. Tak hanya itu, serapan yang tinggi membuat para investor cukup optimistis akan upaya pemerintah dan komitmen pemerintah dalam menangkal pandemi. 


Kedua, dari sisi perbankan adanya performa yang cukup baik. Ditambah kondisi yang terus meningkat seperti perdagangan grosir maupun perdagangan ritel di bulan puasa atau menjelang hari raya Idul Fitri. 

Baca Juga: Rupiah diprediksi mengawali pekan ini dengan pelemahan

Riefky melihat aliran modal asing yang masuk ke pasar keuangan domestik akan bergantung dari data pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2021 yang akan dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pekan depan. “Harapannya, kalau pertumbuhan paling tidak positif kecil, akan meneruskan aliran positif. Kalau negatif, masih ada potensi masuk, tetapi tidak akan meningkat drastis,” tambah Riefky. 

Adanya aliran modal asing ini tentu akan mendorong prospek pergerakan nilai tukar rupiah untuk lebih perkasa. Pada kuartal kedua 2021, Riefky memprediksi nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp 14.300 per dolar Amerika Serikat (AS) hingga Rp 14.500 per dolar AS. 

Dan hingga akhir tahun, Riefky memperkirakan nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp 14.000 per dolar AS hingga Rp 14.500 per dolar AS. “Kita harus pulih lebih cepat dari negara maju, atau setidaknya bisa mengimbangi pemulihan negara maju. Karena, jangan sampai kita terkena risiko tapering off,” tandasnya. 

Baca Juga: BI: Likuiditas perekonomian naik pada bulan Maret 2021

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati