KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memperluas kebijakan Merchant Discount Rate (MDR) QRIS 0% mulai 1 Oktober 2026. Kebijakan ini berlaku bagi merchant Usaha Mikro (UMI) untuk transaksi hingga Rp 500.000 dan diperluas ke seluruh kategori merchant untuk transaksi hingga Rp 100.000. BI menyebut perluasan MDR 0% ditujukan untuk meningkatkan efisiensi biaya transaksi bagi pelaku usaha sekaligus memperluas manfaat digitalisasi pembayaran bagi masyarakat. Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan, perkembangan sistem pembayaran harus memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan dan ketahanan ekonomi nasional.
Baca Juga: Bank Danamon (BDMN) Cermati Langkah Pemenuhan Free Float Menurutnya, kebijakan tersebut dibangun dengan prinsip keseimbangan, yakni memberikan manfaat bagi masyarakat, membuka ruang pertumbuhan bagi merchant, sekaligus menciptakan peluang bagi Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) dengan tetap menjaga keberlanjutan industri. Perluasan MDR 0% tersebut dilakukan di tengah pertumbuhan penggunaan QRIS yang terus meningkat. Hingga Juni 2026, jumlah pengguna QRIS mencapai 65,77 juta, termasuk 6,23 juta pengguna baru sepanjang Januari-Juni 2026. Sementara itu, jumlah merchant QRIS telah mencapai 44,86 juta, dengan sekitar 96,68% merupakan UMKM. Dari sisi transaksi, QRIS mencatatkan 12,55 miliar transaksi sepanjang semester I 2026. Nilai transaksinya mencapai Rp 1,12 kuadriliun, tumbuh 93,92% secara tahunan (yoy). Di sisi lain, perluasan MDR 0% berpotensi memengaruhi pendapatan komisi yang diterima perbankan dari transaksi QRIS. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman mengatakan, MDR 0% akan mengurangi komisi bank pada transaksi yang sebelumnya dikenakan tarif. Sementara itu, biaya pemrosesan dan keamanan transaksi tetap berjalan. Menurut Rizal, tekanan terhadap profitabilitas akan semakin terasa bagi bank yang memiliki porsi transaksi berbayar cukup besar. Karena itu, peningkatan volume transaksi QRIS tidak serta-merta menjamin kenaikan profitabilitas bank.
Baca Juga: DPLK Syariah Muamalat Buka Program Pensiun bagi Penggiat Masjid “Ekspansi QRIS harus menghasilkan pendapatan yang mampu menutup biaya layanan; lonjakan volume saja tidak menjamin penguatan profitabilitas,” kata Rizal kepada kontan.co.id, Minggu (4/10/2026). Ia menambahkan, kompensasi atas berkurangnya pendapatan MDR perlu berasal dari peningkatan nilai transaksi berbayar maupun komisi dari layanan lainnya. Secara ilustratif, apabila bank kehilangan 20% pendapatan MDR, maka dibutuhkan kenaikan sekitar 25% nilai transaksi berbayar yang tersisa, dengan asumsi komisi efektif tetap. Sementara jika kehilangan pendapatan mencapai 30%, diperlukan kenaikan sekitar 43%. Rizal menilai, transaksi dengan tarif 0% memang dapat mendorong peningkatan aktivitas pembayaran, tetapi tidak secara langsung menambah pendapatan MDR. Sementara dana murah yang dihimpun dari ekosistem merchant dapat membantu margin bunga, namun tidak dapat dianggap sebagai pengganti langsung pendapatan komisi. Rizal melihat adopsi QRIS masih memiliki ruang pertumbuhan. Hingga Agustus 2026, merchant QRIS BSI telah melampaui 604.000 merchant, tumbuh 17% yoy, dengan nilai transaksi mencapai Rp 5,7 triliun. Pada periode yang sama, volume transaksi QRIS nasional tumbuh 67,22%. Namun, menurut Rizal, pertumbuhan penggunaan tersebut masih perlu diikuti dengan kemampuan menghasilkan pendapatan bagi bank. “Kekuatan pendapatan non-bunga tetap bergantung pada merchant aktif, nilai transaksi berbayar, dan komisi efektif bank,” jelasnya. Rizal memperkirakan, jumlah merchant dan transaksi QRIS masih akan bertambah hingga akhir 2026, seiring penurunan biaya penerimaan pembayaran dan meningkatnya aktivitas belanja akhir tahun. Namun, ia mengingatkan bahwa pertumbuhan transaksi QRIS tidak selalu berarti pertumbuhan konsumsi. Sebagian peningkatan transaksi dapat berasal dari peralihan pembayaran tunai ke digital.
Baca Juga: Rekening Emas BRI Tembus 3,05 Juta, Melonjak 1.004% hingga September 2026 Dengan demikian, pertumbuhan komisi bank berpotensi tertinggal dibandingkan pertumbuhan transaksi QRIS. Keuntungan bank akan bergantung pada kemampuan mempertahankan saldo merchant, memperluas penggunaan layanan berbayar, serta menekan biaya per transaksi. Sementara itu, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara bilang, perluasan MDR QRIS 0% masih dapat memberikan dampak positif bagi bisnis perbankan. Menurut Bhima, berkurangnya pendapatan dari MDR dapat dikompensasi melalui peningkatan pendapatan berbasis komisi dari layanan lain seiring semakin luasnya penetrasi QRIS. Kompensasi tersebut antara lain dapat berasal dari peningkatan
fee based income dari produk asuransi dan investasi, pertumbuhan simpanan merchant, serta layanan
cash management dan
payroll.
Baca Juga: Laba BSI Tembus Rp 5,3 Triliun, Tumbuh 10,07% pada Agustus 2026 Dari sisi kredit, semakin banyak merchant yang menggunakan QRIS juga membuka peluang bagi bank untuk menawarkan layanan pembiayaan, seperti factoring, kredit modal kerja, hingga produk kredit lainnya. “Diharapkan masyarakat makin nyaman menggunakan QRIS karena tanpa pungutan yang dibebankan ke merchant,” kata Bhima. Ia memperkirakan, transaksi QRIS masih akan meningkat seiring dengan semakin luasnya penetrasi QRIS, termasuk di merchant-merchant kawasan ASEAN. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News