Ekonom Soroti Kedaulatan Data hingga Industri Pertahanan di Soemitro Economic Forum



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah ekonom menyoroti pentingnya penguatan kedaulatan ekonomi nasional di tengah gejolak geopolitik global. Penguatan tersebut dinilai perlu dilakukan melalui industrialisasi, kedaulatan data, penguatan industri pertahanan, hingga pembangunan ekonomi digital.

Isu tersebut mengemuka dalam Soemitro Economic Forum II yang digelar oleh Indonesia Roundtable of Young Economists (IN.RY) di Hotel Majapahit Jakarta, Kamis (12/3/2026).

Forum ini membahas kembali relevansi pemikiran Soemitro Djojohadikusumo terhadap tantangan ekonomi saat ini.


Baca Juga: KPK Amankan 27 Orang, 13 Dibawa ke Jakarta dalam OTT di Cilacap

Forum tersebut juga menjadi momentum memperingati seperempat abad wafatnya Soemitro, ekonom yang dikenal sebagai guru bangsa dan pemikir yang sepanjang hidupnya memperjuangkan kedaulatan ekonomi nasional serta kesejahteraan rakyat.

Sebagai begawan ekonomi Indonesia, pemikiran Soemitro dinilai tetap relevan dalam menjawab berbagai persoalan ekonomi saat ini. Dalam forum tersebut, para ekonom mengulas beragam isu mulai dari dinamika rantai pasok global, kemandirian ekonomi, hingga tantangan globalisasi.

Forum dibuka oleh A.M. Hendropriyono yang menilai konsep Soemitronomics dapat menjadi jalan bagi Indonesia menuju kedaulatan industri nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global, krisis energi, dan fragmentasi ekonomi dunia.

“Inti pemikirannya adalah membangun kapitalisme nasional yang berpihak pada kepentingan bangsa, di mana negara berperan sebagai pengarah, pelindung, dan penggerak lahirnya kekuatan ekonomi nasional,” ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (14/3/2026).

Baca Juga: KPK Sita Uang Tunai Ratusan Juta Rupiah dalam OTT Bupati Cilacap

Menurutnya, untuk membangun kapitalisme nasional diperlukan langkah strategis yang konkret, seperti hilirisasi total sumber daya alam, melahirkan konglomerat nasional berbasis produksi, mendorong kapitalis nasional yang kuat dan produktif, memperkuat peran negara sebagai arsitek ekonomi, mengembangkan industrialisasi berbasis ekspor, serta mendorong revolusi pendidikan teknologi dan industri.

“Soemitronomics bukan sekadar teori ekonomi, melainkan strategi kebangkitan bangsa. Dalam kerangka ini, negara berperan sebagai pengarah, swasta nasional sebagai pelaku utama produksi, dan sumber daya alam Indonesia menjadi fondasi industrialisasi,” jelasnya.

Direktur Utama PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) M. Fankar Umran menambahkan bahwa Soemitro pernah menegaskan Indonesia harus menjadi bangsa produsen yang mampu mendesain, mengolah, mengelola, serta membiayai kepentingan bangsanya sendiri.

Ia juga menyoroti konflik yang tengah berlangsung antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang berpotensi mengganggu rantai pasok global.

Baca Juga: Serangan Air Keras ke Aktivis KontraS Andrie Yunus Tuai Kecaman Amnesty International

“Dalam situasi ini Indonesia memiliki peluang membangun manufaktur, logistik, dan investasi baru berbasis foreign direct investment, bukan sekadar investasi portofolio. Ini momentum bagi reformasi domestik berjalan,” ujarnya.