Ekonom Soroti Peluang dan Tantangan Target Investasi Rp 2.100 Triliun pada 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai target investasi baru yang dipatok pemerintah sebesar Rp 2.100 triliun pada 2026 masih memiliki peluang untuk dicapai. Namun demikian, ia mengingatkan sejumlah tantangan dalam merealisasikan target tersebut, baik dari sisi domestik maupun global.

Menurut Josua, investasi baru di 2026 akan lebih kuat dari sisi penanaman modal dalam negeri (PMDN). Maklum arah kebijakan pemerintah dinilai relatif kuat. Hal ini tercermin dari pertumbuhan PMDN pada 2025 yang mencapai 26,6% dan diproyeksikan terus berlanjut pada 2026.

“Dorongan PMDN akan berlanjut seiring mulai aktifnya Danantara berinvestasi sejak Oktober, dan rencana untuk memperbesar investasi pada 2026 di berbagai sektor,” ujar Josua kepada Kontan, dikutip Minggu (18/1/2026),


Ia menjelaskan, melalui Danantara, pemerintah ingin meningkatkan investasi di sejumlah bidang strategis seperti kesehatan, hilirisasi, dan industri kimia, serta menjalin kolaborasi dengan investor asing. Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kepercayaan investor, khususnya dari luar negeri.

Baca Juga: Targetkan Investasi Baru Rp 2.100 Triliun,Rosan Beberkan Sektor yang Dilirik Investor

Dari sisi agenda proyek, Josua melihat sektor perumahan dan kawasan industri memiliki potensi peningkatan investasi yang signifikan pada 2026. Hal ini sejalan dengan target pemerintah yang mengarah pada percepatan realisasi investasi.

Meski peluang masih terbuka, Josua menekankan bahwa tantangan utama pemerintah adalah memastikan kepastian dan kecepatan eksekusi proyek. Menurutnya, ketidakpastian regulasi dan lambatnya implementasi kebijakan menjadi faktor yang paling dihindari investor.

“Pemerintah sendiri menegaskan bahwa investor paling tidak menyukai ketidakpastian. Karena itu, eksekusi kebijakan menjadi kunci,” katanya.

Selain tantangan domestik, tekanan juga datang dari kondisi global. Josua menilai arus investasi dunia masih tertahan akibat ketegangan perdagangan, tingginya biaya pinjaman, serta ketidakpastian geopolitik yang belum sepenuhnya mereda.

Baca Juga: BKPM, Danantara, dan Kadin Promosikan Investasi RI di WEF Davos 2026

Untuk memperkuat penanaman modal asing (PMA), Josua menilai kolaborasi antara Danantara dan Kementerian Investasi dan Hilirisasi dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) harus berjalan rapi dan terkoordinasi.

Danantara diharapkan berperan sebagai mitra strategis dan pendalaman kelayakan proyek, sementara BKPM tetap memimpin dalam aspek perizinan dan kepastian regulasi.

“Dengan pembagian peran yang jelas, investor akan merasa memiliki mitra yang kuat sekaligus kepastian proses,” pungkasnya.

Baca Juga: Ditopang Danantara, Pemerintah Yakin Raih Investasi Baru Rp 2.100 Triliun di 2026

Selanjutnya: Konsisten Berdayakan Desa, BNI Raih Penghargaan Hari Desa Nasional 2026

Menarik Dibaca: 10 Manfaat Konsumsi Tape Singkong untuk Kesehatan Tubuh yang Jarang Diketahui

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News