KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto menilai tingginya permintaan valuta asing (valas) domestik masih menjadi beban utama bagi nilai tukar rupiah, meski Bank Indonesia (BI) sudah agresif menerbitkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan menaikkan suku bunga acuan. Di tengah tekanan rupiah yang mendekati level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), BI juga tercatat meningkatkan penerbitan SRBI untuk menyerap likuiditas dan memperkuat cadangan valas. Berdasarkan data Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI), posisi utang luar negeri (ULN) jangka pendek BI naik dari US$ 15,85 miliar pada akhir 2025 menjadi US$ 18,53 miliar per akhir Maret 2026.
Sementara itu, mengutip data Bloomberg, pada perdagangan Selasa (26/5/2026), rupiah ditutup melemah ke level Rp 17.796 per dolar AS. Menurut Myrdal, agresifnya penerbitan SRBI mencerminkan langkah BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya kebutuhan dolar di pasar domestik.
Baca Juga: BI: Dominasi Transaksi Valas di Pasar Spot Bikin Rupiah Rentan Goyah “BI terlihat agresif karena mereka terus melakukan penyerapan likuiditas terutama untuk menyasar ke likuiditas valas. Supaya amunisi valas mereka banyak, sehingga saat ada permintaan dolar domestik atau permintaan valas yang tinggi, BI bisa mengakomodir permintaan tersebut,” ujar Myrdal kepada Kontan, Rabu (27/5/2026). Ia menjelaskan, saat rupiah mengalami pelemahan tajam, BI biasanya meningkatkan penyerapan likuiditas melalui lelang SRBI dalam jumlah besar. “Rata-rata pada saat rupiah melemah tajam, BI menyerap likuiditas lewat lelang SRBI minimal sekitar Rp 30 triliun untuk menarik dana dari luar negeri,” katanya. Meski posisi SRBI dan ULN jangka pendek BI meningkat, Myrdal menilai risiko terhadap stabilitas moneter masih relatif aman karena BI terus melakukan rollover terhadap instrumen yang jatuh tempo. Namun, ia mengingatkan strategi tersebut tetap memiliki ongkos lebih mahal karena BI perlu menawarkan yield SRBI yang lebih menarik ketika likuiditas pasar mengetat.
Baca Juga: Rupiah Tak Stabil Bikin Investor Asing Tahan Ekspansi ke Indonesia Menurut Myrdal, tekanan terhadap rupiah saat ini sebagian besar berasal dari faktor global, seperti meningkatnya aksi risk aversion investor global dan penguatan dolar AS. Selain itu, tingginya permintaan valas domestik juga membuat rupiah sulit menguat meski BI sudah menaikkan BI Rate dan suku bunga SRBI. Ia menyebut kebutuhan impor energi yang meningkat akibat harga minyak di atas US$ 100 per barel ikut memperbesar permintaan dolar AS. Di sisi lain, kebutuhan pembayaran dividen dan kebutuhan haji juga meningkatkan permintaan valas di pasar domestik. “Lalu yang berikutnya terkait persoalan konversi valas menjadi mata uang rupiah di sistem keuangan domestik oleh eksportir. Ini juga masih menjadi concern dari situasi rupiah saat ini yang melemah,” ujarnya. Myrdal menilai apabila devisa hasil ekspor lebih banyak dikonversi menjadi rupiah di dalam negeri, tekanan terhadap rupiah seharusnya tidak sebesar saat ini. “Harusnya kalau valas itu dikonversi semua menjadi rupiah di sistem keuangan domestik, rupiah tidak seburuk ini,” katanya.
Untuk prospek akhir 2026, Myrdal memperkirakan rupiah masih berpotensi berada di level Rp 17.602 per dolar AS apabila konflik geopolitik global masih berlangsung dan permintaan valas domestik tetap tinggi. “Kalau suplai valas global kembali tercukupi dan tekanan geopolitik mereda, baru tekanan terhadap rupiah bisa berkurang,” pungkasnya.
Baca Juga: Permintaan Valas Dividen dan Haji Tekan Cadangan Devisa April 2026 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News