Ekonom Ungkap Langkah BCA Himpun Dana Murah Mampu Topang Fundamental



KONTAN.CO.ID - Ketidakpastian ekonomi serta risiko fiskal domestik meningkat, namun PT Bank Central Asia Tbk atau BCA (BBCA) menorehkan kinerja positif pada kuartal I 2026. Jeli membaca kebutuhan nasabah sebagai strategi menghimpun dana murah menjadi kunci utama BCA bertahan di tengah tekanan makroekonomi.

Dana murah atau CASA (Current Account Saving Account) merupakan indikator penting kekuatan fundamental perbankan karena mencerminkan stabilitas likuiditas dan efisiensi biaya dana (cost of fund). Hingga akhir Maret 2026, total DPK (Dana Pihak Ketiga) BCA tumbuh 8,3% secara tahunan mencapai Rp1.292,4 triliun. Porsi CASA mendominasi sekitar 85,2% dari total DPK. Dana murah yakni giro dan tabungan naik 11,2% secara tahunan menjadi Rp1.089 triliun.

BCA berhasil mengoptimalkan penghimpunan dana murah dengan berbagai inovasi, di antaranya dengan menghadirkan layanan “poket valas” atau konversi tabungan rupiah ke valuta asing. Ekonom Bright Institute, Yanuar Rizky, menilai poket valas bukan sekadar inovasi produk, melainkan langkah cerdas BCA merespons perubahan preferensi nasabah.


“Kemampuan BCA mempertahankan likuiditas DPK (Dana Pihak Ketiga) dengan memberi ruang nasabah tetap menahan dananya di BCA melalui penyediaan poket valas merupakan strategi yang kuat,” ujar Yanuar pada Kamis (23/4) di Jakarta.

Layanan ini dapat berfungsi sebagai lindung nilai bagi nasabah. Nasabah bisa secara mandiri mengkonversi tabungan rupiah ke valas melalui aplikasi myBCA.

Di sisi lain, fitur ini juga menjadi instrumen mitigasi risiko yang brilian bagi BCA karena mampu mencegah dana nasabah keluar sistem. Nasabah tetap menyimpan dana di ekosistem BCA dalam bentuk valas, ketimbang mengalihkannya menjadi emas atau dolar di luar BCA.

"Bahkan, pelemahan rupiah secara tidak langsung turut meningkatkan nilai CASA dalam denominasi rupiah, memberikan efek tambahan bagi neraca bank," ujarnya.

Keunggulan BCA juga diperkuat oleh sistem pembayaran yang terintegrasi dengan penyaluran dana. Infrastruktur payment gateway yang kuat menciptakan hubungan “back-to-back” antara penghimpunan dana (saving) dan penyaluran kredit, khususnya kredit konsumsi.

“Model ini memungkinkan BCA menjaga kualitas aset sekaligus memoderasi potensi kenaikan kredit bermasalah (NPL)," tambah Yanuar.

Fleksibilitas lindung nilai

Di tengah ketidakpastian yang menguat, kelompok nasabah dana besar cenderung menahan ekspansi. Hal ini tercermin dari data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang menunjukkan simpanan nasabah dengan saldo di atas Rp5 miliar melonjak 22,76% secara tahunan.

Menjawab fenomena ini, BCA menjadi institusi yang menawarkan fleksibilitas lindung nilai sebagai “safe place” bagi dana besar. Layanan eksklusif bagi segmen nasabah pemilik dana besar seperti Prioritas dan Solitaire menguatkan posisi BCA sebagai bank yang tepat untuk menjaga nilai kekayaan.

“Nasabah prioritas dan solitaire memang bagian dari strategi agar pemilik dana besar tetap merasa bank menjadi tempat untuk menjaga lindung nilai,” kata Yanuar.

Sementara itu dalam perspektif investasi, saham BCA tetap memiliki daya tarik tersendiri. Menurut Yanuar, BBCA bisa menjadi opsi untuk strategi akumulasi jangka panjang, terutama saat terjadi koreksi harga dan volatilitas mulai mereda.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News