KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Permata memperingatkan Indonesia berisiko kembali mencatatkan defisit neraca perdagangan dalam jangka panjang apabila transformasi industri berorientasi ekspor tidak dipercepat. Kondisi tersebut dinilai dapat memperlebar defisit transaksi berjalan (
current account deficit/CAD) di tengah tingginya impor dan berakhirnya periode lonjakan harga komoditas (
commodity boom). Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan Bank Permata Faisal Rachman mengatakan, peluang neraca perdagangan kembali surplus memang masih terbuka apabila tekanan impor migas mereda. Namun, surplus tersebut diperkirakan akan terus menyempit seiring normalisasi harga komoditas.
Baca Juga: Purbaya Sebut Keputusan Pencairan DBH Daerah Masih Menunggu Restu Prabowo Ia menghitung, apabila harga minyak dunia kembali ke kisaran US$ 70 per barel, tekanan dari impor migas bisa berkurang. “Selain itu, jika percepatan pemanfaatan impor barang modal dan bahan baku dapat diarahkan ke produksi yang berorientasi ekspor, maka neraca perdagangan masih berpeluang kembali mencatat surplus," ujar Faisal kepada Kontan, Senin (3/8/2026). Meski demikian, ia menilai surplus tersebut akan terbatas dan cenderung terus menyempit seiring berakhirnya periode
commodity boom. Dalam jangka panjang, Faisal memperingatkan Indonesia berpotensi kembali mengalami defisit neraca perdagangan apabila tidak mampu mempercepat transformasi struktural, khususnya melalui pengembangan industri berorientasi ekspor dan peningkatan peran Indonesia dalam rantai pasok global. "Tanpa percepatan transformasi struktural dengan menggenjot industri berorientasi ekspor dan meningkatkan peran Indonesia dalam global supply chain, kemungkinan besar Indonesia kembali mencatatkan defisit perdagangan yang pada akhirnya melebarkan defisit transaksi berjalan,” katanya. Sejalan dengan itu, ia juga memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia akan melebar menjadi 1,0%–2,0% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2026, dari hanya 0,11% PDB pada 2025. Pelebaran CAD tersebut diperkirakan dipicu oleh impor yang tetap tinggi seiring agenda pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi, sementara kinerja ekspor diproyeksikan melambat akibat lemahnya permintaan global, terutama dari China, serta ketidakpastian yang dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan perang dagang. Dengan proyeksi tersebut, Faisal juga memperkirakan cadangan devisa Indonesia akan turun menjadi sekitar US$ 143 miliar hingga US$ 147 miliar pada akhir 2026, dari US$ 156,47 miliar pada akhir 2025. Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2026 masih mencatat defisit sebesar US$ 0,45 miliar, meski membaik dibandingkan defisit US$ 1,61 miliar pada Mei 2026. Perbaikan tersebut ditopang oleh menguatnya surplus neraca perdagangan nonmigas menjadi US$ 3,04 miliar dari US$ 2,15 miliar pada bulan sebelumnya. Namun, surplus tersebut belum mampu menutup defisit neraca migas yang masih berada di atas US$ 3 miliar akibat lonjakan impor minyak mentah. Data BPS juga menunjukkan ekspor Indonesia pada Juni 2026 tumbuh 8,84% secara tahunan
(year on year/yoy) menjadi sekitar US$ 25,45 miliar, berbalik dari kontraksi 5,73% yoy pada Mei. Secara bulanan (
month to month/mtm), ekspor meningkat 9,72%, ditopang lonjakan ekspor
crude palm oil (CPO), batu bara, serta mesin dan peralatan listrik. Di sisi lain, impor tumbuh lebih tinggi, yakni 34,27% yoy menjadi sekitar US$ 25,90 miliar, terutama didorong kenaikan impor bahan baku sebesar 38,94% yoy dan barang modal sebesar 26,53% yoy. Secara kumulatif, pertumbuhan impor sepanjang Januari–Juni 2026 mencapai 18,69%, jauh melampaui pertumbuhan ekspor yang hanya 4,13%.
Menurut Faisal, tingginya impor tersebut mencerminkan kuatnya aktivitas investasi domestik. Namun, apabila peningkatan impor barang modal dan bahan baku tidak diikuti peningkatan kapasitas ekspor, tekanan terhadap neraca perdagangan dan transaksi berjalan akan semakin besar pada tahun-tahun mendatang. Di tengah kondisi tersebut, ia memperkirakan Bank Indonesia masih akan mempertahankan kebijakan moneter yang berfokus pada stabilitas makroekonomi dan sektor eksternal, termasuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Baca Juga: Purbaya: Yield SBN Naik Imbas Konflik Timur Tengah, Investor Asing Masih Borong SBN Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News