KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyebutkan Indonesia memiliki peluang untuk menangkap potensi ekonomi dari perkembangan kecerdasan artifisial alias
artificial intelligence (AI) yang semakin pesat. Asisten Deputi Percepatan Transisi Energi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Farah Heliantina menjelaskan saat ini AI menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru. Bahkan secara global, lanjutnya, kontribusi ekonomi AI pun diproyeksikan mencapai US$ 15,7 triliun pada 2030. Menurutnya, Indonesia telah mengantongi sejumlah m untuk mengambil bagian dalam perkembangan industri AI. Mulai dari pasar digital yang besar, sumber daya manusia (SDM), potensi energi, hingga posisi geografis yang mendukung.
Baca Juga: Surplus Dagang Menyusut, Defisit Transaksi Berjalan RI Terancam Melebar "Yang penting bagi Indonesia adalah siapa yang akan membangun kemampuan dan menangkap nilai ekonomi dari AI ini sendiri," ujarnya dalam The 12th Indonesia EBTKE ConEx 2026 di Jakarta, Kamis (3/9/2026). Dari sisi pasar, ia memaparkan Indonesia memiliki lebih dari 230 juta pengguna internet dengan nilai ekonomi digital yang mendekati US$ 100 miliar. Kondisi tersebut membuka peluang pemanfaatan AI di berbagai sektor, mulai dari manufaktur, logistik, keuangan, kesehatan, pendidikan, hingga energi.
Pengembangan Data Center
Selain itu, Indonesia juga dinilai memiliki modal dari sisi energi. Farah mencermati pengembangan energi rendah karbon seperti panas bumi (
geothermal) dapat menjadi keunggulan dalam mendukung kebutuhan pusat data (
data center) yang menjadi fondasi pengembangan AI. "Panas bumi bisa menghasilkan listrik rendah karbon secara stabil selama 24 jam, 7 hari, bahkan 365 hari. Jadi geothermal bisa menjadi keunggulan penting bagi pusat data," katanya. Ia menambahkan, meski perkembangan AI memang terlihat bersifat digital, AI membutuhkan infrastruktur pusat data fisik yang kuat. Pusat data membutuhkan pasokan listrik yang andal, konektivitas, air, serta sistem pendingin yang mampu beroperasi sepanjang waktu. "Setiap kita bertanya ke ChatGPT atau ke Cloudy itu semua proses berlangsungnya berlangsung dari chip dalam pusat data," jelas Farah.
Baca Juga: Purbaya Klaim Yield SBN Tak Sulit Dikendalikan Meski Pasar Global Bergejolak Berdasarkan data yang dipaparkannya, kapasitas pusat data yang beroperasi di Indonesia hingga Mei 2026 mencapai sekitar 637 megawatt (MW) yang tersebar di 88 fasilitas pada 11 wilayah. Kapasitas tersebut diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 2,7 gigawatt (GW) hingga 3,6 GW pada 2030. Kendati begitu, ia mengingatkan tantangan Indonesia ke depan adalah memastikan pertumbuhan pusat data tidak hanya terkonsentrasi di wilayah tertentu. Saat ini, Farah menyebut sekitar 55%-57% kapasitas pusat data masih berada di kawasan Jabodetabek. "Seluruh pertumbuhan ini masih terkonsentrasi di Jawa, sehingga tekanan terhadap jaringan listrik, air, lahan, dan konektivitas juga akan semakin besar," ujarnya. Ia menilai bahwa sejumlah wilayah seperti Batam, Surabaya, dan Ibu Kota Nusantara (IKN) memiliki peluang untuk menjadi pusat pertumbuhan baru bagi industri digital dan pusat data. Lebih lanjut, ia mengatakan investasi pusat data dan AI mampu menghasilkan nilai keekonomian dengan sejumlah langkah.
Di sektor manufaktur, misalnya, AI dapat digunakan untuk memprediksi operasional mesin dan menjaga kualitas produk. Sementara di sektor keuangan, AI dapat membantu pengawasan transaksi serta mendeteksi potensi manipulasi.
Baca Juga: Yield Obligasi Negara Maju Naik, Arus Modal ke RI Terancam Tertekan "Ekosistem ini sangat penting untuk bergerak secara serentak. Diperlukan koordinasi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, lembaga riset, hingga mitra internasional agar proyek ini menjadi nyata," pungkasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News