KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Perekonomian Amerika Serikat (AS) tumbuh lebih cepat dari perkiraan pada kuartal III 2026. Ketahanan belanja konsumen dan peningkatan investasi perusahaan yang didorong kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mampu mengimbangi dampak kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah. Produk domestik bruto (PDB) AS meningkat pada tingkat tahunan sebesar 3,4% pada periode Juli–September 2026, menurut estimasi awal yang dirilis Biro Analisis Ekonomi di bawah Departemen Perdagangan AS, Kamis (29/10/2026). Angka tersebut melampaui perkiraan ekonom yang disurvei Reuters, yakni pertumbuhan sebesar 3,2%. Proyeksi para ekonom sebelumnya berada dalam rentang pertumbuhan 1% hingga 4,2%.
Pertumbuhan ekonomi yang kuat ini berbanding terbalik dengan penilaian rumah tangga terhadap kondisi perekonomian. Sentimen konsumen mengalami kemerosotan tajam, sementara tingkat persetujuan terhadap Presiden Donald Trump mencapai rekor terendah.
Baca Juga: Microsoft Siapkan Obligasi Jumbo US$ 25 Miliar, Danai Ekspansi AI Laporan PDB tersebut dirilis kurang dari sepekan sebelum pemilihan paruh waktu AS pada Selasa (3/11/2026). Pemilu ini akan menentukan partai yang mengendalikan Kongres AS. Pertumbuhan ekonomi AS juga berada jauh di atas tingkat pertumbuhan yang dianggap tidak memicu inflasi oleh sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed), yakni sekitar 2%. Pada Rabu (28/10/2026), bank sentral AS mempertahankan suku bunga acuan dalam kisaran 3,75%–4,00%. Namun, The Fed mengakui bahwa tekanan inflasi masih tinggi. Para ekonom sebelumnya memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember mendatang. Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan kepada wartawan bahwa "aktivitas ekonomi berkembang dengan laju yang kuat." Ia juga mencatat bahwa "meskipun ketidakpastian masih ada, sebagian disebabkan oleh perkembangan geopolitik, belanja domestik tetap tangguh." Di sisi lain, sejumlah ekonom menilai pertumbuhan PDB yang kuat belum tentu sepenuhnya mencerminkan kondisi perekonomian AS. Hal ini karena belanja terkait AI semakin mendominasi investasi bisnis. Investor kini semakin mencermati peningkatan biaya proyek AI jangka panjang, terutama karena potensi keuntungan dari investasi tersebut masih belum pasti. Perusahaan teknologi telah meminjam dana dalam jumlah besar selama setahun terakhir untuk membiayai investasi AI. Kondisi ini berpotensi menimbulkan risiko terhadap belanja peralatan apabila perusahaan mulai mengurangi pengeluaran.
Baca Juga: Pasar Saham dan Obligasi Eropa Menguat, Investor Cermati Kebijakan ECB dan Belanja AI Meski demikian, para ekonom memperkirakan investasi AI masih menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi, meskipun kontribusinya berpotensi melemah. Pengurangan belanja diperkirakan lebih mungkin terjadi dibandingkan penghentian investasi secara menyeluruh.
Belanja Konsumen AS Masih Kuat
Belanja konsumen, yang menyumbang lebih dari dua pertiga aktivitas ekonomi AS, tumbuh sebesar 3,8% pada kuartal III 2026. Angka tersebut sama dengan pertumbuhan pada kuartal II 2026. Rendahnya tingkat pemutusan hubungan kerja (PHK) secara historis dan perekrutan tenaga kerja yang moderat membantu menopang konsumsi masyarakat. Namun, kenaikan upah pada sejumlah periode masih tertinggal dibandingkan laju inflasi. Selain itu, rumah tangga AS mulai mengurangi porsi tabungan dan menggunakan simpanan yang telah dikumpulkan untuk membiayai pengeluaran sehari-hari. Harga rata-rata bensin yang masih berada di atas US$ 4 per galon juga menjadi tantangan bagi konsumen. Kondisi ini berlangsung ketika perang antara AS dan Israel melawan Iran terus berlanjut, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap harga energi.