Data April Mengecewakan, Mesin Ekonomi China Mulai Kehabisan Momentum



KONTAN.CO.ID - China mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi pada April 2026 setelah data produksi industri dan penjualan ritel menunjukkan hasil jauh di bawah ekspektasi pasar.

Kondisi ini menandakan momentum pemulihan ekonomi Negeri Tirai Bambu mulai melemah di tengah tingginya biaya energi akibat konflik Iran serta lemahnya permintaan domestik.

Baca Juga: WHO Tetapkan Wabah Ebola di Kongo dan Uganda sebagai Darurat Kesehatan Global


Melansir Reuters, data Biro Statistik Nasional China (NBS) yang dirilis Senin (18/5/2026) menunjukkan produksi industri hanya tumbuh 4,1% secara tahunan (year on year/YoY) pada April.

Angka tersebut melambat dibanding pertumbuhan 5,7% pada Maret dan berada di bawah proyeksi Reuters sebesar 5,9%.

Capaian tersebut juga menjadi pertumbuhan produksi industri paling lambat sejak Juli 2023.

Sementara itu, penjualan ritel yang menjadi indikator utama konsumsi rumah tangga hanya naik 0,2% YoY pada April.

Pertumbuhan ini merosot tajam dibanding kenaikan 1,7% pada Maret dan menjadi yang terlemah sejak Desember 2022. Realisasi tersebut juga jauh di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan sekitar 2%.

Baca Juga: Sektor Properti China Belum Pulih, Investasi Turun 13,7% hingga April 2026

Lemahnya konsumsi rumah tangga masih menjadi tantangan utama ekonomi China. Penjualan mobil domestik tercatat turun 21,6% pada April dibanding periode sama tahun lalu, memperpanjang penurunan selama tujuh bulan berturut-turut.

Kondisi itu terjadi meski produsen otomotif agresif memperluas pasar ekspor guna menutupi lemahnya permintaan di dalam negeri.

Di sisi lain, investasi aset tetap juga menunjukkan pelemahan. Pada periode Januari-April 2026, investasi aset tetap terkontraksi 1,6%, berbalik dari pertumbuhan 1,7% pada kuartal pertama tahun ini.

Ekonom menilai pelemahan investasi dipengaruhi turunnya indeks manajer pembelian (PMI) sektor konstruksi serta curah hujan tinggi di sejumlah wilayah China bagian selatan.

Baca Juga: Gempa Magnitude 5,2 Guncang Guangxi China, Ribuan Warga Mengungsi

Data April ini menjadi sinyal awal bahwa momentum pertumbuhan ekonomi China pada kuartal pertama mulai memudar.

Sebelumnya, ekonomi China tumbuh 5% pada kuartal I-2026, berada di batas atas target pertumbuhan pemerintah tahun ini yang dipatok di kisaran 4,5%-5%.

Namun, para analis memperingatkan pemulihan ekonomi China masih rapuh karena pertumbuhan produksi industri belum diimbangi permintaan domestik yang kuat.

Selain itu, krisis berkepanjangan di sektor properti masih menjadi beban ekonomi. Konflik di Timur Tengah juga meningkatkan risiko eksternal terhadap ekonomi China, terutama ketika konsumsi domestik masih lemah.

Kontraksi investasi properti China juga dilaporkan makin dalam pada April secara tahunan.

Baca Juga: Harga Rumah Baru China Turun Paling Lambat dalam Setahun pada April 2026

Meski ekspor China masih lebih baik dari perkiraan dan kebijakan pengendalian harga bahan bakar membantu meredam guncangan energi, kenaikan biaya input dinilai dapat menekan margin produsen serta mengurangi daya beli masyarakat apabila konflik berkepanjangan.

Menghadapi tekanan tersebut, para pemimpin China menegaskan komitmen untuk memperkuat ketahanan energi, mempercepat kemandirian teknologi, serta meningkatkan kendali atas rantai pasok nasional guna menghadapi gejolak eksternal.

Politbiro China juga kembali menegaskan kebijakan fiskal yang “proaktif” dan kebijakan moneter yang “cukup longgar”. Namun, pernyataan itu dinilai belum memberi sinyal adanya stimulus tambahan dalam waktu dekat.