KONTAN.CO.ID - Pertumbuhan ekonomi China melambat ke level terendah dalam tiga tahun pada kuartal IV-2025 seiring melemahnya permintaan domestik. Meski demikian, secara keseluruhan sepanjang 2025 laju pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu tetap memenuhi target resmi pemerintah. Data Biro Statistik Nasional China (National Bureau of Statistics/NBS) yang dirilis Senin (19/1/2026) menunjukkan, produk domestik bruto (PDB) China tumbuh 4,5% secara tahunan (
year on year/YoY) pada kuartal IV-2025.
Angka ini melambat dibandingkan pertumbuhan kuartal III yang sebesar 4,8%, sekaligus menjadi laju pertumbuhan paling lambat dalam tiga tahun terakhir.
Baca Juga: Ekonomi China Goyah: Produksi Industri Melesat, Penjualan Ritel Anjlok Capaian tersebut sedikit di atas perkiraan analis yang disurvei Reuters, yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal IV sebesar 4,4%. Secara tahunan, ekonomi China tumbuh 5,0% sepanjang 2025, sejalan dengan target resmi pemerintah sekitar 5%. Angka ini juga lebih baik dibandingkan konsensus analis yang memperkirakan pertumbuhan 4,9%, serta sama dengan pertumbuhan ekonomi pada 2024. Kinerja ekonomi China pada 2025 ditopang oleh sektor manufaktur dan ekspor. China mencatatkan surplus perdagangan hampir US$ 1,2 triliun pada 2025, didorong oleh lonjakan ekspor ke negara-negara non-Amerika Serikat, seiring upaya eksportir mendiversifikasi pasar untuk meredam dampak tarif AS. Namun, ketergantungan pada permintaan eksternal menyoroti kerentanan struktural ekonomi China. Konsumsi domestik masih lemah akibat krisis properti yang berkepanjangan serta tekanan deflasi yang belum mereda. Secara kuartalan (
quarter to quarter), PDB China tumbuh 1,2% pada Oktober–Desember 2025, lebih tinggi dari proyeksi 1,0% dan sedikit di atas pertumbuhan kuartal sebelumnya sebesar 1,1%.
Baca Juga: Filipina Temukan Cadangan Gas Raksasa, Pertama Kalinya dalam Sedekade! Produksi Industri Naik, Konsumsi Masih Lemah Dari sisi indikator ekonomi bulanan, produksi industri China pada Desember 2025 tumbuh 5,2% yoy, meningkat dibandingkan November yang sebesar 4,8%. Sebaliknya, pertumbuhan penjualan ritel hanya mencapai 0,9% yoy, lebih rendah dibandingkan 1,3% pada November dan di bawah ekspektasi pasar sebesar 1,2%. Investasi aset tetap mencatat kontraksi 3,8% sepanjang 2025, menjadi penurunan tahunan pertama sejak 1989. Sementara itu, investasi sektor properti anjlok 17,2% pada tahun lalu.
Baca Juga: Harga Emas dan Perak Cetak Rekor Senin (19/1), Trump Ancam Tarif Eropa soal Greenland Prospek ekonomi China pada 2026 masih dibayangi meningkatnya proteksionisme global dan ketidakpastian kebijakan ekonomi Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang antara lain mengancam akan mengenakan tarif 25% terhadap negara-negara yang bertransaksi dengan Iran. Untuk menopang pertumbuhan, bank sentral China pekan lalu memangkas suku bunga di sejumlah sektor dan membuka peluang pelonggaran lanjutan, termasuk penurunan rasio cadangan wajib bank serta pemangkasan suku bunga acuan. Dalam pertemuan ekonomi penting pada Desember lalu, para pemimpin China menegaskan komitmen untuk mempertahankan kebijakan fiskal yang “proaktif” pada 2026, dengan target pertumbuhan ekonomi diperkirakan tetap di kisaran 5%. Pemerintah China juga berjanji meningkatkan porsi konsumsi rumah tangga secara signifikan dalam lima tahun ke depan, meski belum menetapkan target spesifik. Saat ini, konsumsi rumah tangga menyumbang kurang dari 40% PDB China, sekitar 20 poin persentase di bawah rata-rata global.
Baca Juga: Saham Jepang Merosot, Investor Hadapi Risiko Geopolitik & Perang Dagang Baru Meski permintaan domestik melemah, kondisi pasar tenaga kerja relatif stabil. Tingkat pengangguran perkotaan berbasis survei tercatat 5,1% pada Desember, tidak berubah dibandingkan bulan sebelumnya.
Namun, penurunan harga properti telah menggerus kekayaan rumah tangga, menambah tantangan bagi pembuat kebijakan. Bank Dunia dan IMF kembali mendorong China untuk mempercepat transisi menuju pertumbuhan berbasis konsumsi dan mengurangi ketergantungan pada investasi serta ekspor guna menjaga keberlanjutan ekonomi jangka panjang.