Ekonomi China: Manufaktur Ekspansi 4 Bulan, Tapi Ancaman Inflasi Mengintai!



KONTAN.CO.ID - Aktivitas manufaktur China kembali mencatat ekspansi pada Maret untuk bulan keempat berturut-turut, ditopang oleh pertumbuhan produksi dan pesanan baru.

Namun, tekanan harga meningkat tajam di tengah dampak konflik Timur Tengah.

Melansir Reuters Rabu (1/4/2026), survei sektor swasta yang dirilis S&P Global menunjukkan indeks manufaktur berada di level 50,8 pada Maret, turun dari 52,1 pada Februari dan di bawah perkiraan analis sebesar 51,6.


Baca Juga: Harga Emas Dunia Naik ke US$4.700 Rabu (1/4/2026) Pagi, Dolar AS Melemah

Meski melambat, angka ini masih berada di atas level 50 yang menandakan ekspansi.

Pesanan baru meningkat untuk bulan ke-10 berturut-turut, sementara pesanan ekspor juga tumbuh meski dengan laju yang lebih lambat dibandingkan Februari.

Produksi pun naik untuk bulan keempat beruntun, dengan pertumbuhan kuartal I-2026 menjadi yang tercepat sejak kuartal IV-2024.

Namun, tekanan biaya menjadi sorotan utama. Pendiri RatingDog Yao Yu menyebut, tekanan biaya meningkat signifikan.

Biaya input naik pada laju tercepat sejak Maret 2022, sementara harga output meningkat paling cepat dalam empat tahun karena produsen mulai meneruskan kenaikan biaya ke konsumen.

Baca Juga: Argentina Tetapkan Garda Revolusi Iran sebagai Organisasi Teroris, Sejalan dengan AS

Lonjakan harga ini dipicu oleh inflasi impor akibat konflik Timur Tengah, terutama dari kenaikan harga energi.

Penasihat bank sentral China memperingatkan tekanan inflasi tersebut dapat membebani perekonomian dan memaksa pembuat kebijakan menyeimbangkan antara inflasi yang meningkat dan pertumbuhan yang melambat.

Di sisi lain, gangguan rantai pasok juga meningkat. Waktu pengiriman pemasok kembali memanjang untuk pertama kalinya dalam lima bulan dan menjadi yang terburuk sejak Desember 2022, akibat disrupsi, volatilitas harga bahan baku, serta keterbatasan kapasitas pemasok.

Meski demikian, lapangan kerja meningkat lebih cepat seiring naiknya pesanan dan backlog.

Aktivitas pembelian juga terus bertambah untuk bulan ketiga berturut-turut, meski lebih lambat dibanding Februari.

Baca Juga: CFTC Prioritaskan Penindakan Insider Trading di Prediction Market & Manipulasi Energi

Produsen tetap optimistis terhadap prospek produksi dalam 12 bulan ke depan, didukung ekspektasi peningkatan permintaan, investasi kapasitas, dan kebijakan pemerintah yang suportif. Namun, tingkat kepercayaan sedikit menurun dibanding puncak pada Februari akibat tekanan biaya dan waktu pengiriman yang lebih panjang.

Ekonom mengingatkan lonjakan biaya input di basis manufaktur terbesar dunia ini berpotensi menekan margin yang sudah tipis, meski China dinilai relatif lebih tahan terhadap krisis dibandingkan negara-negara di Asia dan Eropa.