Ekonomi China Melambat, Output Industri dan Penjualan Ritel di Bawah Ekspektasi



KONTAN.CO.ID - Pertumbuhan ekonomi China menunjukkan tanda-tanda pelemahan pada Juli 2026. Pertumbuhan produksi industri melambat, sementara penjualan ritel tumbuh jauh di bawah ekspektasi pasar.

Mengutip Reuters, Senin (17/8/2026), produksi industri China pada Juli 2026 tumbuh 4,5% secara tahunan (YoY).

Baca Juga: Bursa Asia Menguat, Dolar AS Tertekan Seiring Ekspektasi Suku Bunga The Fed Mereda


Pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan Juni yang mencapai 5,3% sekaligus di bawah ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters sebesar 4,8%.

Perlambatan tersebut menunjukkan tekanan yang masih dihadapi sektor manufaktur China, terutama di tengah lemahnya permintaan domestik dan gangguan cuaca ekstrem.

Aktivitas produksi pada Juli juga kemungkinan terdampak cuaca ekstrem. Tiga topan menerjang wilayah China dan menyebabkan jutaan warga harus dievakuasi dari sejumlah pusat manufaktur di wilayah timur dan selatan.

Sementara itu, penjualan ritel China hanya tumbuh 0,6% yoy pada Juli, melambat dari pertumbuhan 1% pada Juni. Angka tersebut juga jauh di bawah perkiraan analis sebesar 1,5%.

Padahal, periode musim liburan musim panas biasanya memberikan dorongan terhadap konsumsi masyarakat.

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Thailand Kuartal II-2026 Lampaui Perkiraan, Target 2026 Dinaikkan

Subsidi Konsumsi Mulai Melemah

Pemerintah China selama ini mengandalkan program subsidi tukar tambah untuk mendorong pembelian mobil, peralatan rumah tangga dan barang tahan lama lainnya.

Namun, efektivitas kebijakan tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda melemah. Analis Citi mencatat distribusi subsidi kembali melambat pada Juli.

Rata-rata penjualan harian yang mendapatkan subsidi turun menjadi sekitar 6,3 miliar yuan atau US$ 934,8 juta, dari sekitar 9 miliar yuan per hari pada Juni.

Penjualan mobil China juga mengalami kontraksi untuk bulan ke-10 berturut-turut pada Juli, meskipun laju penurunannya mulai melambat.

Kondisi tersebut menunjukkan masih lemahnya permintaan domestik. Di sisi lain, produsen otomotif China semakin mengandalkan ekspansi ke pasar luar negeri untuk mengompensasi lemahnya pasar dalam negeri.

Baca Juga: Harga Tembaga Menguat pada Senin (17/8), di Tengah Keterbatasan Pasokan Global

Investasi Aset Tetap Turun

Tekanan juga terlihat dari investasi aset tetap. Dalam tujuh bulan pertama 2026, investasi aset tetap China turun 6,7%, lebih dalam dibandingkan ekspektasi penurunan 6%.

Pada periode Januari-Juni 2026, investasi aset tetap tercatat turun 5,7%.

Sejumlah indikator ekonomi yang telah dirilis juga menunjukkan awal kuartal III 2026 yang masih lemah. Indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur resmi China secara tak terduga masuk ke zona kontraksi.

Pertumbuhan ekspor dan impor juga melambat dibandingkan Juni, meski keduanya masih mencatat pertumbuhan dua digit.

Baca Juga: Harga Gandum Naik 4 Hari Beruntun Senin (17/8), Risiko Laut Hitam Jadi Sorotan

Ekspor Jadi Penopang Ekonomi

Di tengah lemahnya permintaan domestik, sektor ekspor masih menjadi salah satu penopang utama ekonomi China.

Ekspor China mendapatkan dukungan dari tingginya permintaan global terkait pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Kondisi tersebut membantu menopang aktivitas manufaktur China.

China bahkan kembali mencatat surplus perdagangan lebih dari US$ 100 miliar pada Juli.

Dengan perkembangan tersebut, surplus perdagangan China sepanjang 2026 berpotensi kembali menembus US$ 1 triliun untuk tahun kedua berturut-turut.

Namun, surplus perdagangan yang besar tersebut mulai memicu kekhawatiran dari mitra dagang China.

Baca Juga: Vietnam Targetkan Rasio Jenis Kelamin Bayi Kembali Normal pada 2035

Uni Eropa tengah mempertimbangkan langkah lebih ketat untuk mengurangi defisit perdagangan dengan China, sementara AS telah memberlakukan tarif baru terhadap sejumlah produk China.

Para pemimpin China sebelumnya berjanji memperkuat perekonomian yang melambat dengan mempercepat belanja fiskal dan memperkenalkan kebijakan baru secara tepat waktu.

Namun hingga kini, pemerintah China masih belum memberikan sinyal mengenai paket stimulus besar baru untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.