Ekonomi China tumbuh 6% di kuartal ketiga, terendah dalam hampir 30 tahun



KONTAN.CO.ID - BEIJING. Ekonomi China kuartal ketiga tumbuh lebih rendah daripada prediksi awal. Pertumbuhan ekonomi China pada periode Juli-September melambat menjadi 6,0% secara tahunan. 

Ini adalah laju pertumbuhan paling lambat dalam hampir tiga dekade. Perlambatan ini terjadi di tengah tekanan produksi industri akibat perang dagang dan pelemahan permintaan domestik. 

Pertumbuhan ekonomi ini lebih rendah ketimbang pertumbuhan kuartal kedua lalu yang mencapai 6,2%. Angka pertumbuhan kuartal ketiga ini juga berada di batas bawah target pemerintah setahun penuh antara 6%-6,5%.


Polling Reuters sebelumnya memperkirakan pertumbuhan ekonomi China kuartal ketiga bisa melaju pada 6,1%. Angka pertumbuhan yang dirilis hari Jumat (18/10) ini kemungkinan meningkatkan harapan bahwa pemerintah China perlu mengeluarkan lebih banyak stimulus untuk menangkal perlambatan yang lebih tajam.

Baca Juga: China: Kalau mau ada kesepakatan, AS harus cabut tarif

Mitra dagang dan investor China mengamati dengan seksama kesehatan negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia ini di tengah perang dagang dengan Amerika Serikat (AS) yang memicu kekhawatiran resesi global.

Ho Woei Chen, ekonom di UOB di Singapura mengatakan bahwa masih ada banyak ketidakpastian kesepakatan dagang AS-China.  "Saya pikir tarif 15 Desember akan memiliki implikasi yang sangat penting bagi pertumbuhan Cina pada 2020. Pendekatan Tiongkok terukur dan ditargetkan dan mereka akan terus seperti itu," kata Chen kepada Reuters.

Data ekonomi yang suram dalam beberapa bulan terakhir menandai permintaan yang lebih lemah di dalam dan luar negeri. Namun, sebagian besar analis mengatakan potensi stimulus agresif akan terbatas. Pasalnya, ekonomi Chian sudah dibebani oleh utang besar dari pelonggaran sebelumnya. 

Ekonomi China diramalkan belum banyak berubah dalam jangka pendek. Perang dagang yang berlarut-larut antara AS dan China masih belum menampakkan titik terang. Pekan lalu, Presiden AS Donald Trump mengatakan kedua belah pihak telah mencapai kesepakatan pada fase pertama dan menunda kenaikan tarif. Tapi para pejabat mengatakan masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.

Penurunan ekspor China makin tajam pada bulan September. Sementara impor mengalami kontraksi selama lima bulan berturut-turut.

Baca Juga: Bursa Asia menguat meski dibayangi perlambatan ekonomi China

Pelemahan permintaan, baik domestik dan global, menekan ekonomi China. Hal ini terutama tampak pada pengapalan, pembangkit listrik pabrik, jumlah tenaga kerja, serta dan belanja hiburan. 

Pada bulan September, penjualan mobil mencatat penurunan 15 bulan berturut-turut. Sedangkan indeks harga produsen turun dengan laju tercepat dalam tiga tahun.

Dana Moneter Internasional alias International Monetary Fund (IMF) telah memperingatkan dampak perang dagang AS-China terhadap pertumbuhan global 2019. IMF meramalkan, pertumbuhan ekonomi global tahun ini akan mencapai level terendah sejak  krisis keuangan 2008-2009. IMF mengatakan, output akan meningkat jika perang tarif kedua negara ini dihapus.

China mengandalkan kombinasi stimulus fiskal dan pelonggaran moneter untuk mengatasi perlambatan saat ini. Stimulus termasuk pemangkasan pajak senilai triliunan yuan dan obligasi pemerintah daerah untuk mendanai proyek-proyek infrastruktur dan upaya untuk memacu pinjaman bank.

Baca Juga: China kembali menjual surat utang AS pada bulan Agustus

Berbeda dengan angka PDB yang mengecewakan, output industri China tumbuh 5,8% pada September. Data dari Biro Statistik Nasional menunjukkan angka ini lebih baik dari perkiraan sebesar 5% dan lebih cepat dari kenaikan pada Agustus dan Juli yang ada di bawah 5%.

Kenaikan ini sejalan dengan tanda-tanda kenaikan pesanan domestik di musim panas meski permintaan pada umumnya masih rendah. 

Penjualan ritel bulan September naik 7,8% secara tahunan. Angka ini sejalan dengan ekspektasi dan lebih tinggi daripada penjualan di bulan Agustus yang tumbuh 7,5%.

Investasi aset tetap tumbuh 5,4% dari Januari-September. Investasi ini sesuai dengan prediksi, tetapi melambat dari laju 5,5% dalam delapan bulan pertama.

Investasi aset tetap sektor swasta, menyumbang 60% dari total investasi negara, tumbuh 4,7% pada Januari-September, dibandingkan dengan 4,9% pada Januari-Agustus.

Editor: Wahyu T.Rahmawati