Ekonomi Digital RI Tembus US$ 99 Miliar, Komdigi Bidik Investasi Lewat Bali Tech Week



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) membidik investasi dan kerja sama konkret di sektor teknologi melalui penyelenggaraan Bali Tech Week 2026 pada 19–23 Oktober 2026 di Bali Beach Convention Center, Sanur, Bali. Dalam konferensi pers di kantor Komdigi, Jakarta, Selasa (13/10/2026), pemerintah menyatakan ajang ini ditujukan untuk mempertemukan investor, perusahaan rintisan, dan pelaku industri guna memperkuat ekosistem digital nasional. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan, potensi pasar digital Indonesia menjadi salah satu modal untuk menarik investasi. Pada 2025, nilai gross merchandise value (GMV) ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai US$ 99 miliar, tumbuh 14% secara tahunan. Dengan asumsi kurs Rp 16.500 per dollar AS, nilai tersebut setara sekitar Rp 1.633,5 triliun. Besarnya potensi pasar tersebut perlu ditopang iklim usaha yang mendukung pertumbuhan pelaku industri, termasuk perusahaan rintisan lokal. Karena itu, pemerintah menilai kepastian regulasi dan persaingan usaha yang sehat menjadi faktor penting agar investasi dapat berkembang sekaligus memberi ruang bagi pelaku domestik untuk bersaing dengan pemain global.

Baca Juga: Pemerintah Akan Bagi Ponsel Gratis untuk Digitalisasi Bansos, FITRA: Harus Dikaji “Target kita dari event ini, selain tentu mengundang investasi, yang paling penting adalah bagaimana pemerintah hadir memastikan fair competition dan memastikan regulasi yang terprediksi serta dapat diterima oleh semua pihak,” ujar Meutya dalam konferensi pers Komdigi, Selasa (13/10). Dukungan terhadap ekosistem digital juga membutuhkan kesiapan infrastruktur dan layanan teknologi. Direktur Utama Telkom Indonesia Nanang Hendarno mengatakan, pengembangan infrastruktur digital menjadi fondasi untuk memperluas akses masyarakat, mendorong inovasi, dan meningkatkan daya saing perusahaan Indonesia. Telkom terus mengembangkan jaringan kabel laut, serat optik, pusat data, komputasi awan, serta teknologi keamanan digital. Investasi di bidang tersebut membutuhkan perencanaan jangka panjang dan kolaborasi lintas pelaku industri. “Kami memerlukan kolaborasi, baik dengan pelaku industri di dalam negeri maupun dengan pelaku industri di regional. Kami juga mengharapkan dukungan pemerintah untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi inovasi dan investasi dalam jangka panjang,” kata Nanang. Di sisi layanan, perusahaan telekomunikasi juga dituntut mencari sumber pertumbuhan baru seiring persaingan industri yang semakin ketat. Direktur Utama Telkomsel Nugroho menilai, operator tidak bisa hanya mengandalkan penjualan konektivitas. Selain meningkatkan kualitas dan cakupan jaringan, perusahaan perlu mengembangkan layanan digital yang memberi nilai tambah kepada pelanggan. “Kami tidak bisa hanya mengandalkan konektivitas. Kualitas dan cakupan jaringan terus kami perbaiki. Namun, di atas itu ada beyond connectivity yang akan menjadi sumber pertumbuhan berikutnya,” ujar Nugroho. Kebutuhan untuk memperkuat ekosistem digital juga dirasakan perusahaan teknologi. CEO GoTo Hans Patuwo mengatakan, pertumbuhan perusahaan teknologi turut bergantung pada perkembangan ekosistem secara keseluruhan. Pengembangan teknologi, menurut dia, perlu berangkat dari kebutuhan pengguna, termasuk konsumen, mitra pengemudi, dan pedagang. Karena itu, kolaborasi antarpelaku industri dibutuhkan untuk memperkuat ekosistem domestik. “Jika seluruh ekosistem teknologi di Indonesia itu bertumbuh, kami juga akan ikut bertumbuh. Kami juga merasa bertanggung jawab untuk membantu, mendukung, dan bekerja sama dengan pemerintah maupun pihak lain untuk meningkatkan ekosistem teknologi di Indonesia,” ungkap Hans.

Baca Juga: Dikejar Target, DJP Kembali Buka Pintu Maaf bagi Wajib Pajak Lalai Untuk mendorong kolaborasi tersebut menjadi peluang bisnis, Komdigi menyiapkan agenda yang mempertemukan perusahaan rintisan dengan calon investor. Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi Edwin Hidayat Abdullah mengatakan, Bali Tech Week 2026 akan menghadirkan HUB.ID Global Summit dan agenda one-on-one meeting. Melalui HUB.ID, Komdigi memfasilitasi koneksi antara 80 perusahaan modal ventura dan startup Indonesia untuk membuka peluang pendanaan serta kerja sama bisnis. Komdigi berharap, pertemuan tersebut tidak berhenti pada penjajakan bisnis, tetapi berlanjut menjadi kesepakatan kerja sama dan pengembangan proyek. “Yang kami harapkan sebagai hasil nyata dari acara ini adalah adanya tindak lanjut dari pertemuan yang kemudian menghasilkan kesepakatan untuk bekerja sama dalam mengembangkan satu proyek,” ungkap Edwin. Adapun Meutya menilai, perubahan lanskap teknologi dan dinamika geopolitik global turut membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi digital. Pergeseran tersebut memberi kesempatan bagi negara-negara di luar pusat kekuatan teknologi global untuk mengejar ketertinggalan dan mengambil peran lebih besar dalam perkembangan industri digital.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News