KONTAN.CO.ID - China selama puluhan tahun terus mengumpulkan obligasi pemerintah AS (US Treasury). Per November 2025, China tercatat memegang sekitar US$ 682,6 miliar Treasury. Sebagian analis khawatir China bisa “menjual besar-besaran” (dumping) obligasi ini sebagai senjata ekonomi, yang berpotensi mendorong suku bunga AS naik dan menekan pertumbuhan ekonomi AS. Namun, faktanya, kepemilikan China atas Treasury justru menurun sejak 2018. Lalu, kenapa China membeli begitu banyak utang AS?
Model Ekonomi China: Mesin Ekspor
- Eksportir China menerima pembayaran dalam dolar AS (USD)
- Tapi mereka butuh yuan (RMB) untuk membayar gaji dan operasional di dalam negeri
- Dolar itu lalu ditukar ke yuan
Peran Bank Sentral China (PBOC)
Untuk mencegah yuan menguat terlalu cepat, Bank Sentral China (PBOC) turun tangan. Caranya yakni dengan PBOC membeli dolar dari eksportir. Sebagai gantinya, PBOC mencetak dan memberikan yuan. Karena PBOC bisa mencetak yuan, China jadi menumpuk cadangan dolar AS dalam jumlah besar. Inilah salah satu alasan utama China punya cadangan devisa raksasa.Mengapa China Sengaja Menjaga Yuan Tetap Lemah?
Strategi China adalah pertumbuhan berbasis ekspor untuk menciptakan lapangan kerja bagi populasi besar. Kalau yuan menguat:- Barang China jadi lebih mahal di luar negeri
- Ekspor bisa turun
- Risiko pengangguran meningkat
Mengapa Cadangan Dolar Itu Dibeli dari Treasury AS?
Per Desember 2025, cadangan devisa China sekitar US$ 3,36 triliun.- Sangat aman
- Likuid
- Stabil
- Dianggap investasi paling aman di dunia
- Lebih stabil dibanding saham, properti, atau obligasi negara lain
- Pasarnya sangat besar dan likuid