Ekonomi dunia tak bergairah, rupiah melemah



JAKARTA. Perekonomi global yang masih belum bergairah menjadi kambing hitam tidak berdayanya nilai tukar rupiah. Dampak penerapan kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) yang akan mengurangi stimulus ekonomi atau tapering off serta perlambatan ekonomi China menjadi alasan mengapa ekonomi global masih kurang bergairah.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, selain perekonomian global yang loyo, faktor lain yang membuat nilai tukar rupiah bergerak ke bawah adalah kondisi neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan triwulan II-2014 yang akan memburuk. "Pada April kemarin, defisit neraca perdagangan hampir US$ 2 miliar. Itu dari sisi fundamentalnya. Supply dan demand mempengaruhi, demand lebih tinggi dibanding pasokannya sehingga defisit," katanya di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (3/6).

Pada April 2014 defisit neraca perdagangan mencapai sebesar US$ 1,96 miliar. Defisit terjadi karena impor naik 11,93% menjadi US$ 16,26 miliar, sedangkan ekspor hanya sebesar US$ 14,29 miliar. Itulah sebabnya nilai tukar rupiah terus melemah selama beberapa waktu belakangan ini. Nilai tukar mata uang garuda berdasarkan kurs tengah BI pada Selasa (3/6) mencapai Rp 11.806 per dollar Amerika Serikat, melemah 66 poin dibanding hari sebelumnya yang sebesar Rp 11.740 per dollar AS.


Menurut  Perry, risiko geopolitik di beberapa negara juga turut menimbulkan ketidakpastian terhadap keadaan ekonomi dunia dan Indonesia. "Sehingga dari sisi global maupun domestik mempengaruhi nilai tukar. Tentu saja kami berkomitmen menjaga bagaimana nilai tukar tetap stabil sesuai kondisi fundamentalnya," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Uji Agung Santosa